Gardupedia.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2026 memicu dampak finansial dan kesehatan yang sangat masif. Center for Economic and Law Studies (Celios) mencatat total kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla selama periode Januari hingga Agustus 2026 berpotensi mencapai Rp 39,29 triliun hingga Rp 123,1 triliun.
Angka tertinggi dari estimasi tersebut setara dengan 49,1 persen dari total proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2026.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menyampaikan bahwa nilai tersebut mencerminkan kerusakan nyata pada aktivitas ekonomi masyarakat, tidak hanya sebatas perhitungan material vegetasi yang terbakar.
“Angka Rp 123,1 triliun ini setara 49,1 persen dari proyeksi PDRB Kalimantan Tengah 2026. Yang perlu digarisbawahi, angka ini belum menghitung skenario meluasnya karhutla hingga akhir tahun. Artinya, potensi kerugian riil bisa jauh lebih besar,” ujar Nailul Huda dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).
Huda merinci, kerugian ekonomi akibat kerusakan fisik dan gangguan produksi diperkirakan mencapai Rp 29,54 triliun atau setara 0,23 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sektor-sektor yang mengalami penurunan signifikan antara lain pertanian, perdagangan, hingga jasa akomodasi dan penyediaan makanan minuman. Karhutla juga menggerus potensi penerimaan pajak bersih daerah hingga Rp 269,86 miliar.
Secara geografis, Kalimantan Barat menanggung kerugian nominal terbesar mencapai Rp 5,7 triliun, disusul Papua Barat sebesar Rp 4,3 triliun, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp 2,8 triliun.
“Karhutla kini bukan lagi persoalan klasik Kalimantan dan Sumatra saja, melainkan telah merambat luas ke wilayah Indonesia Timur. Dampaknya melumpuhkan mata rantai ekonomi akibat paparan asap serta terhentinya proses produksi,” tegas Huda.
Temuan Celios ini sejalan dengan peningkatan eskalasi bencana yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Data Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK mencatat lonjakan kejadian karhutla sebesar 366 persen sepanjang Januari–Juni 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) KLHK mengonfirmasi total luas areal terbakar secara nasional sejak Januari hingga Agustus 2026 telah menembus 202.010,96 hektare. Provinsi Kalimantan Barat mencatat area terbakar terluas yaitu 38.310,86 hektare, disusul Papua Selatan sebesar 25.838,53 hektare yang disinyalir dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan skala besar untuk proyek food estate dan bioetanol.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment