Berita Lifestyle

BSD Pastikan Proyek MRT Tangsel Masih Dalam Studi Kelayakan

Proyek Perluasan Jalur MRT dari Lebak Bulus ke Serpong Terus Dikembangkan

Proyek perluasan jalur Mass Rapid Transit (MRT) dari Lebak Bulus menuju kawasan Serpong, Tangerang Selatan, terus menjadi fokus utama pihak terkait. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), yang merupakan salah satu pengembang utama wilayah tersebut, mengungkapkan bahwa saat ini proyek masih dalam tahap penyusunan studi kelayakan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan dan efisiensi pembangunan jalur baru tersebut.

Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk, Hermawan Wijaya, menjelaskan bahwa studi kelayakan mencakup berbagai aspek penting seperti pemilihan jalur, identifikasi trase, analisis permintaan, biaya investasi, serta kelayakan ekonomi dan bisnis. Meski informasi detail belum dapat diungkapkan secara terbuka, ia menegaskan bahwa pihaknya akan segera memberikan update jika ada perkembangan terbaru.

“Kami akan membagikan informasi di kemudian hari sesuai kesepakatan dengan PT MRT Jakarta,” ujar Hermawan.

Sebelumnya, PT MRT Jakarta (Perseroda) dan Sinar Mas Land melalui BSDE telah melakukan penjajakan kerja sama terkait pengembangan jaringan MRT dari Lebak Bulus ke wilayah Serpong. Kerja sama ini mencakup pembuatan studi kelayakan atau feasibility study (FS) yang akan mencakup berbagai aspek teknis dan ekonomi. Rencananya, kerja sama antara kedua belah pihak akan berlangsung selama dua tahun ke depan.

Penandatanganan nota kesepahaman antara kedua perusahaan dilakukan oleh beberapa pejabat tinggi, termasuk Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud, CEO Digital Tech Ecosystem and Development Sinar Mas Land Irawan Harahap, serta CEO Lifestyle Business Sinar Mas Land Herry Santoso. Acara tersebut turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Banten Achmad Dimyati Natakusumah, Kepala Badan Pembinaan BUMD Provinsi DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, serta Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat dan Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk Christopher Siswanto.

Siasat Hemat BBM: Pekerja Komuter di Surabaya Beralih ke Sepeda Motor Listrik dan Gowes

Studi Kelayakan dan Pembiayaan Proyek

Saat ini, belum diketahui secara pasti besaran dana yang dibutuhkan untuk pembangunan MRT Tangsel. Informasi lebih detail akan tertuang dalam hasil kajian yang sedang dilakukan oleh BSDE. Namun, proyek MRT Jakarta menuju Tangsel disebut-sebut akan membutuhkan biaya operasional mencapai USD 11,7 juta atau sekitar Rp190,31 miliar per tahun.

Terkait pembiayaan, hingga saat ini belum ada kesepakatan apakah akan menggunakan skema konsesi atau Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub Arif Anwar, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada investor. “Proyek ini kami serahkan ke investor, mungkin nantinya akan konsesi. Tetapi apakah nanti KPBU atau konsesi, tergantung hasil kajian,” ujar Arief.

Percepatan Pembangunan MRT di Wilayah Banten

Pemerintah Provinsi Banten juga mendorong percepatan pembangunan jalur MRT sepanjang 17 kilometer yang akan masuk wilayahnya. Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi rencana pembangunan MRT di Wilayah Provinsi Banten di Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (8/9).

Gubernur Banten Andra Soni menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari RPJMN 2025-2029 dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Kolaborasi antara pemerintah daerah dan swasta menjadi kunci keberhasilan proyek ini.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten Tri Nurtopo, di wilayah utara akan dibangun jalur MRT antara Kembangan-Balaraja sebagai bagian dari pembangunan Fase II Jalur East West Cikarang-Balaraja. Sementara itu, bagian selatan akan dibangun jalur Lebak Bulus-Serpong, sebagai pengembangan pelayanan yang sudah ada, yaitu jalur North-South Lebak Bulus-Bundaran HI-Kota-Ancol.

Macron Kritik Keras Trump Terkait Eskalasi Konflik di Iran

Dampak Ekonomi dan Mobilitas Warga

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan menyampaikan bahwa dari 1,4 juta penduduk Kota Tangsel, sekitar 30 persen bekerja di Jakarta. MRT diharapkan dapat membantu mobilitas warga dengan memberikan alternatif transportasi publik yang cepat, nyaman, dan terjangkau.

Pilar menyoroti dampak positif MRT terhadap perekonomian lokal. Pembangunan MRT bukan hanya soal transportasi, tapi juga pengembangan ekonomi, peningkatan nilai properti, dan peluang usaha. “Multiplier effect, ke depan bagus sekali untuk perkembangan ekonomi, menambah nilai daripada pengembang. Mereka bisa meningkatkan daya beli perumahan,” ujarnya.

Pendanaan dan Trase yang Dipertimbangkan

Sumber pendanaan proyek ini sepenuhnya berasal dari investasi swasta. Saat ini, feasibility study (FS) tengah berjalan dan ditargetkan rampung akhir 2025. PT MRT sedang mengkaji dua alternatif trase masuk ke Tangsel, yaitu jalur selatan melalui Pondok Cabe (Ciputat) dan jalur utara lewat Pondok Aren (Bintaro) yang terhubung dengan tol menuju Serpong.

Pemilihan trase akan mempertimbangkan potensi penumpang dan daya beli masyarakat, serta investasi yang paling efektif secara bisnis. “Tingkat keterlibatan pemerintah daerah dalam penyediaan lahan dapat menekan biaya investasi dan harga tiket,” tambah Pilar.

Selain Sinar Mas, pengembang lain yang sudah menyatakan dukungannya dalam pembangunan MRT ke Tangsel yaitu Alam Sutera, dan Lippo. Pihaknya juga akan berkomunikasi dengan Bintaro Jaya untuk mendukung proyek ini. “Insya Allah semuanya sih mendukung ya, karena ini juga untuk kebaikan semua seperti itu,” tutup Pilar.

Waspada! Defisit APBN 2,9% dan Lonjakan Subsidi Rp100 Triliun

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *