Gardupedia.com – Perdebatan mengenai posisi kepolisian dalam struktur kenegaraan kembali mengemuka setelah DPR RI menetapkan bahwa Polri tetap berada langsung di bawah kendali Presiden, menepis usulan agar lembaga tersebut berada di bawah kementerian. Menanggapi hal ini, kriminolog dari Universitas Indonesia, Bagus Sudharmanto, memberikan pandangan kritis bahwa persoalan utama Polri saat ini bukanlah soal “siapa yang membawahi mereka,” melainkan pada aspek internal yang lebih mendalam.
Bagus Sudharmanto menilai bahwa tantangan terbesar Polri terletak pada budaya organisasi. Menurutnya, reformasi yang sesungguhnya harus menyentuh ranah profesionalisme, transparansi dalam penanganan kasus, serta akuntabilitas publik guna memulihkan kepercayaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa perdebatan mengenai struktur kelembagaan (apakah di bawah Presiden atau kementerian) tidak akan memberikan dampak signifikan jika perilaku dan praktik di lapangan tidak mengalami perubahan.
“Tantangan Polri itu lebih kepada bagaimana membangun budaya organisasi yang sehat. Masalahnya bukan sekadar struktur, tapi soal transparansi dan bagaimana mereka bisa mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik,” ujar Bagus pada Rabu (11/2/2026).
Salah satu langkah konkret yang disarankan Bagus adalah penggunaan teknologi, seperti kamera badan (body cam) bagi personel di lapangan. Penggunaan alat ini dipandang sebagai cara efektif untuk menciptakan bukti objektif.
Selain dapat melindungi petugas dari tuduhan tidak berdasar, body cam juga berfungsi sebagai pengawas otomatis yang membatasi potensi penyimpangan oleh oknum polisi. Dengan adanya rekaman faktual, sengketa informasi antara warga dan petugas bisa diminimalisir.
Lebih jauh, Bagus menjelaskan bahwa budaya organisasi adalah kumpulan nilai, norma tidak tertulis, dan kebiasaan yang sudah mendarah daging dalam keseharian anggota Polri. Oleh karena itu, jika terjadi penyimpangan, hal tersebut seringkali bukan hanya masalah individu, melainkan dampak dari pola sistemik yang sudah terbentuk lama.
“Budaya organisasi itu membentuk perilaku anggota secara kolektif. Jadi, reformasi budaya ini merupakan pekerjaan besar karena sifatnya yang sistemik dan kokoh, bukan hanya soal mengganti satu atau dua orang saja,” pungkasnya.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment