Program Cek Kesehatan Gratis Sekolah Mulai Berlangsung
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah resmi dimulai pada hari ini, Senin (4/8/2025). Program ini ditujukan untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMU. Diperkirakan sebanyak 53,8 juta siswa akan menjadi sasaran program ini.
CKG Sekolah merupakan bagian dari CKG masyarakat umum yang sudah diluncurkan sejak Februari 2025. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, mendeteksi penyakit lebih dini, serta meningkatkan kualitas hidup individu.
Target Peserta dan Jumlah Siswa yang Terlibat
Berikut rincian jumlah peserta CKG Sekolah berdasarkan jenjang pendidikan:
- SD (7-12 tahun): Total sebanyak 28.256.134 siswa
- SMP (13-15 tahun): Total sebanyak 13.470.833 siswa
- SMU/SMK (16-17 tahun): Total sebanyak 12.046.379 siswa
- SLB: Total sebanyak 161.318 siswa
- Sekolah Rakyat (SR): Total sebanyak 9.755 siswa
Total keseluruhan peserta didik yang akan terlibat dalam program ini mencapai 53.844.419 orang dari 282.317 satuan pendidikan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa CKG Sekolah bukan hanya sekadar pemeriksaan fisik, tetapi juga bertujuan untuk mendeteksi dini penyakit agar tidak berkembang lebih lanjut.
Pemeriksaan yang Dilakukan
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada setiap jenjang pendidikan berbeda-beda. Berikut jenis pemeriksaan yang akan dilakukan:
Untuk SD (7-12 tahun)
- Status Gizi
- Merokok (Kelas 5-6)
- Tingkat Aktivitas Fisik (Kelas 4-6)
- Tekanan Darah
- Gula Darah
- Tuberkulosis
- Telinga
- Mata
- Gigi
- Jiwa
- Hati (Hepatitis B)
- Kesehatan Reproduksi (Kelas 4-6)
- Riwayat Imunisasi (Kelas 1)
Untuk SMP (13-15 tahun)
- Status Gizi
- Merokok
- Tingkat Aktivitas Fisik
- Tekanan Darah
- Gula Darah (kelas 7)
- Tuberkulosis
- Talasemia
- Anemia (kelas 7)
- Telinga
- Mata
- Gigi
- Jiwa
- Hati (Hepatitis B dan C)
- Kesehatan Reproduksi
- Riwayat Imunisasi HPV (kelas 9 Putri)
Untuk SMA (16-17 tahun)
- Status Gizi
- Merokok
- Tingkat Aktivitas Fisik
- Tekanan Darah
- Gula Darah
- Tuberkulosis
- Talasemia
- Anemia Remaja Putri (kelas 10)
- Telinga
- Mata
- Gigi
- Jiwa
- Hati (Hepatitis B dan C)
- Kesehatan Reproduksi
Lokasi Kick Off CKG Sekolah
Kick-off CKG Sekolah dilaksanakan di 12 lokasi, antara lain:
* SD Cideng 02 Jakarta Pusat
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 8 Jagakarsa Jakarta Selatan
SMKN 26 Jakarta Timur
Pesantren Asshiddiqiyah Kedoya, Jakarta Barat
SMA Negeri 6 Tangerang Selatan
SD Prestasi Global, Depok
SMPN 5 Kota Bandung
Madrasah Tsanawiyah Persis 1-2 Kota Bandung
SLB Negeri Semarang
SMPN 1 Padangan Bojonegoro
Pesantren Al-Amanah, Sidoarjo
* SMPK Penabur Gading Serpong
Saran dari Pakar Kesehatan
Ahli epidemiologi Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman M.Sc Ph.D menyoroti pentingnya mengawasi kadar gula darah anak. Menurutnya, tren pola makan anak-anak Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan, terutama karena konsumsi minuman bergula dan junk food yang tinggi.
Dicky menyarankan agar Indonesia belajar dari pengalaman China, yang telah menerapkan kebijakan bebas minuman bergula di sekolah-sekolah. Ia menegaskan bahwa gula merupakan “mother of disease” dan perlu dikendalikan sejak dini.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya tindak lanjut setelah deteksi dini. Anak yang memiliki potensi gangguan kesehatan harus dirujuk dan didampingi agar tidak hanya berhenti pada pencatatan angka semata.
Langkah-Langkah yang Perlu Diambil
Untuk memastikan keberhasilan program CKG, diperlukan intervensi kesehatan lanjutan seperti edukasi bagi orang tua dan guru, penyuluhan bagi siswa, serta penciptaan ekosistem sekolah sehat. Lingkungan sekolah yang sehat tidak hanya bicara soal gedung bersih atau kantin bersertifikasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran hidup sehat dari segi pola makan, aktivitas fisik, dan pemilihan jajanan.
Langkah kecil seperti menyediakan air putih sebagai pilihan utama, menanamkan kebiasaan membaca kandungan gizi di kemasan, serta mensosialisasikan pentingnya makan bergizi dan berimbang perlu dijadikan bagian dari kurikulum non-formal. Kesadaran ini harus dibangun dari hulu ke hilir, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, hingga penjaga dan pedagang sekitar sekolah.


Comment