Gardupedia.com – Sudah dua tahun berlalu sejak kepengurusan PSSI di bawah arahan Erick Thohir menjabat, namun hingga kini kompetisi sepak bola putri nasional belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bergulir. Publik pun mulai mempertanyakan: sebenarnya apa yang membuat penyelenggaraan liga putri ini terasa begitu sulit diwujudkan?
Sebagai catatan, Liga 1 Putri terakhir kali diadakan pada tahun 2019, dengan Persib Bandung keluar sebagai jawaranya. Sejak saat itu, kompetisi vakum total selama enam tahun. Ketiadaan wadah kompetisi lokal ini memaksa para pemain putri terbaik Indonesia mencari peruntungan di luar negeri demi tetap bisa berkompetisi dan menjaga performa mereka.
Pada Mei 2024, para pemain Timnas Putri sempat menagih komitmen PSSI terkait liga. Saat itu, Exco PSSI Arya Sinulingga menyatakan bahwa federasi tidak ingin terburu-buru demi membangun kompetisi yang berkelanjutan, bukan sekadar “formalitas”. PSSI awalnya menjanjikan liga akan dimulai pada 2026 setelah melalui proses pembinaan di tingkat daerah.
Namun, harapan tersebut kembali pupus setelah Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menganulir pernyataan tersebut dan menyebutkan bahwa Liga Putri baru kemungkinan digelar pada tahun 2027. Keputusan ini menuai kritik karena masa jabatan pengurus PSSI periode sekarang akan berakhir di tahun yang sama, sehingga ada kekhawatiran Liga Putri tidak akan pernah terealisasi di bawah kepemimpinan saat ini.
Pengamat sepak bola, Mohamad Kusnaeni atau Bung Kus, menyuarakan keprihatinannya. Menurutnya, alasan kekurangan pemain tidak relevan jika kompetisinya sendiri tidak ada. Ia menegaskan bahwa liga adalah magnet; jika wadahnya disiapkan, maka talenta-talenta baru akan bermunculan dengan sendirinya.
“Rumus di mana pun sama: siapkan kompetisi, pemain akan datang. Kita sudah melihat buktinya di futsal putri dan di banyak negara lain,” tegas Bung Kus. Ia bahkan mengusulkan agar PSSI melakukan tender pengelolaan liga putri kepada pihak swasta jika merasa keberatan atau kesulitan mengelolanya sendiri.
Keberhasilan timnas futsal putri meraih medali perak di SEA Games 2025 menjadi bukti nyata betapa pentingnya liga reguler. Sejak kompetisi futsal putri rutin digelar pada 2015, prestasi timnas mereka terus meningkat. Hal ini sangat kontras dengan timnas sepak bola putri yang prestasinya sulit berkembang karena minimnya jam terbang kompetisi resmi.
Eks pemain Timnas Putri, Risda Yulianti Noviawan, juga menyampaikan kritiknya. Ia merasa PSSI seolah abai terhadap nasib pesepak bola putri yang sudah menunggu sangat lama untuk bisa berkompetisi kembali di tanah air sendiri.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment