Gardupedia.com – nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan dan semakin mendekati ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (6/3). Berdasarkan data pasar sore ini, mata uang Garuda bertengger di level Rp16.925 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 20 poin atau setara 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kondisi yang sama juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) milik Bank Indonesia, yang mematok rupiah di angka Rp16.919 per dolar AS.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau sangat bervariasi. Di satu sisi, yen Jepang berhasil menguat 0,62 persen, peso Filipina naik 0,66 persen, dan baht Thailand terapresiasi 0,44 persen. Namun di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,15 persen, yuan China turun 0,08 persen, dan dolar Singapura terkoreksi tipis 0,05 persen.
Nasib serupa menimpa mata uang negara maju. Meskipun euro, poundsterling, dan franc Swiss mampu menguat tipis, dolar Australia dan dolar Kanada justru mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,14 persen dan 0,07 persen.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah dipicu oleh memburuknya sentimen pasar akibat konflik yang kian memanas di wilayah Timur Tengah. Situasi geopolitik ini berdampak langsung pada variabel ekonomi lainnya.
“Kenaikan harga minyak dunia yang cukup tajam serta adanya penurunan pada cadangan devisa nasional menjadi faktor utama yang memberatkan posisi rupiah saat ini,” ujar Lukman dalam keterangannya.
Kombinasi antara tekanan eksternal dari ketegangan global dan faktor internal terkait data cadangan devisa membuat investor cenderung waspada, sehingga rupiah sulit untuk bangkit dari tekanan dolar AS.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment