Gardupedia.com – Pergerakan harga emas dunia terpantau stabil pada perdagangan Kamis (26/3/2026). Kondisi ini terjadi setelah emas sempat mengalami pemulihan moderat dalam dua hari terakhir, sementara para investor terus memantau ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai upaya penghentian konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot berada di kisaran 4.500 dollar AS per ons. Meskipun sempat naik lebih dari 2 persen pada dua sesi sebelumnya, penguatan tersebut kini tertahan. Sementara itu, kontrak emas berjangka Comex untuk pengiriman April tercatat berada di level 4.444,30 dollar AS per ons, mengalami penurunan sebesar 108 dollar AS atau sekitar 2,37 persen.
Ketidakpastian pasar dipicu oleh perbedaan sikap yang tajam antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS mengklaim tengah menjalin komunikasi intensif dengan Iran melalui proposal perdamaian yang terdiri dari 15 poin. Namun, pihak Iran secara terbuka menolak draf tersebut dan mengajukan syarat-syarat mereka sendiri.
Di tengah upaya diplomatik yang buntu, AS justru dilaporkan mengerahkan ribuan personel pasukan ke wilayah Timur Tengah. Langkah militer ini memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi invasi darat, yang dianggap sebagai skenario risiko tinggi bagi ekonomi global.
Menariknya, sejak konflik ini meletus hampir sebulan lalu, harga emas secara kumulatif telah merosot sekitar 15 persen. Pergerakan logam mulia ini kini cenderung mengikuti dinamika pasar saham dan berlawanan arah dengan harga minyak mentah. Lonjakan harga energi akibat perang telah memicu kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga tinggi ini menjadi beban bagi emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Meskipun dibayangi suku bunga tinggi, prospek ekonomi yang suram akibat perang yang berkepanjangan mulai membuat analis Wall Street merevisi proyeksi mereka. Sejumlah pakar mulai memprediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, meningkatnya angka pengangguran, serta peluang resesi yang lebih besar. Faktor-faktor ini berpotensi membatasi agresivitas Bank Sentral AS (The Fed) dalam menaikkan suku bunga.
Dari sisi arus modal, data Bloomberg menunjukkan sekitar 85 ton emas telah ditarik keluar dari exchange-traded fund (ETF) sejak awal konflik. Analis dari Standard Chartered Plc, Sudakshina Unnikrishnan, mengungkapkan bahwa posisi pasar saat ini masih cukup rentan. Terdapat sekitar 83 ton kepemilikan emas yang saat ini berada dalam posisi rugi dan berisiko dilepas ke pasar jika harga terus tertekan.
Hingga siang hari waktu Singapura, harga emas spot merangkak naik tipis 0,1 persen ke posisi 4.511,95 dollar AS per ons. Di sektor logam lainnya, perak menguat 0,2 persen ke level 71,32 dollar AS per ons, sementara platinum dan paladium menunjukkan kenaikan yang terbatas. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau relatif tidak banyak bergerak.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment