Gardupedia.com — Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Lampung mengalami kenaikan tipis pada periode Mei 2026. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis pada Senin (10/8/2026), TPT berada di angka 3,97 persen, atau naik 0,02 poin persentase dibandingkan kondisi Februari 2026. Di balik kenaikan tersebut, kelompok lulusan perguruan tinggi (diploma dan sarjana) justru mendominasi angka pengangguran di daerah tersebut.
Berdasarkan pencatatan BPS per Mei 2026, TPT untuk tamatan diploma dan universitas mencatatkan angka tertinggi, yaitu mencapai 7,92 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah yang justru mencatatkan tingkat pengangguran terendah sebesar 1,47 persen. Adapun untuk jenjang lainnya pada periode yang sama, TPT lulusan SMA umum tercatat sebesar 6,36 persen, disusul SMK sebesar 5,23 persen, dan SMP sebesar 3,68 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam rilis resminya pada Senin (10/8/2026) mengonfirmasi bahwa kelompok terdidik saat ini menjadi penyumbang persentase pengangguran terbesar di Lampung.
“Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT paling tinggi ada pada tamatan Diploma dan Universitas yang mencapai 7,92 persen. Sebaliknya, TPT paling rendah justru berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah,” ujar Ahmadriswan.
Secara keseluruhan, BPS mencatat total angkatan kerja di Lampung per Mei 2026 mencapai 5,15 juta orang (5.153,54 ribu orang), bertambah 37,64 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,95 juta orang telah terserap di dunia kerja, sedangkan 204,45 ribu orang masih berstatus pengangguran. Jumlah warga yang belum bekerja tersebut mengalami peningkatan sebanyak 2.130 orang dalam kurun tiga bulan terakhir. Kendati demikian, TPT Lampung per Mei 2026 masih menjadi yang terendah ketiga di Pulau Sumatera, di bawah Bengkulu (3,20 persen) dan Sumatera Selatan (3,60 persen).
Fenomena maraknya sarjana yang menganggur ini dirasakan langsung oleh Lisya, seorang alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten Lampung. Saat diwawancarai pada Senin (10/8/2026), ia mengaku telah mengirimkan puluhan berkas lamaran pekerjaan selama tiga tahun terakhir (2023–2026), namun belum membuahkan hasil.
“Saya sudah mengirim lamaran lebih dari 50 kali dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Kesulitan mencari kerja karena kurangnya lapangan pekerjaan, padahal sehari bisa lima kali cek situs online info loker. Sekalinya ada yang sesuai, kalah sama ‘ordal’ (orang dalam),” kata Lisya.
Lisya juga menyoroti ketidaksesuaian (mismatch) antara bidang keahlian lulusan sarjana dan ketersediaan lapangan kerja di pasaran saat ini. Banyak lowongan kerja yang dibuka hanya berfokus pada posisi pemasaran atau tenaga penjual.
“Kuliah harapannya bisa kerja sesuai jurusan, tetapi kenyataannya banyak lowongan hanya untuk sales. Saya juga pernah bekerja, gajinya cocok tetapi jam kerjanya kurang sesuai,” tambahnya.
Hingga pertengahan tahun 2026, tingginya angka pengangguran terdidik ini sejalan dengan struktur pasar kerja di Lampung yang masih terpusat pada sektor primer dan sektor informal. Data BPS per Mei 2026 menunjukkan bahwa sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar mencapai 44,04 persen, disusul Perdagangan Besar dan Eceran (16,70 persen), serta Industri Pengolahan (8,41 persen).
Selain itu, dari total penduduk yang bekerja di Lampung saat ini, mayoritas berada di sektor informal yaitu sebanyak 3,42 juta orang (69,17 persen). Sementara itu, sektor formal baru mampu menyerap sebanyak 1,52 juta orang (30,83 persen). Ketersediaan lapangan kerja formal yang terbatas inilah yang ditengarai menjadi pemicu utama tingginya angka pengangguran di tingkat sarjana dan diploma.


Comment