Kebijakan America First 2.0 Mengguncang Perekonomian AS
Kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai “America First 2.0” kini mulai menunjukkan dampaknya terhadap perekonomian Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini diusulkan oleh Presiden Donald Trump dalam masa jabatannya yang kedua pada tahun 2025, dengan tujuan untuk memperkuat ekonomi nasional melalui berbagai langkah proteksionis.
Salah satu poin utama dari kebijakan ini adalah penerapan tarif sebesar 10 persen terhadap semua barang impor. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan AS terhadap pasar global dan membantu industri dalam negeri tumbuh. Dengan demikian, Trump berharap bisa memulihkan pabrik-pabrik yang telah tutup dan memberikan prioritas kepada tenaga kerja lokal.
Namun, hasilnya justru membuat beberapa sektor mengalami perlambatan signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS mengalami tekanan, terutama di sektor manufaktur, perdagangan grosir, konstruksi, dan pariwisata. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan tarif dan penurunan permintaan di pasar.
Angka Ketenagakerjaan yang Menurun
Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa AS hanya menambah 73.000 lapangan kerja pada Juli, jauh di bawah ekspektasi sebesar 115.000. Penambahan terbesar terjadi di sektor kesehatan, dengan 55.000 pekerjaan baru, sementara sektor layanan sosial menambah 18.000 posisi.
Di sisi lain, sektor manufaktur dan pariwisata mengalami stagnasi akibat tekanan dari kebijakan tarif. Selain itu, perusahaan-perusahaan besar di AS juga melakukan pemangkasan karyawan sebanyak 62.075 orang bulan lalu. Angka ini meningkat 29 persen dibanding bulan sebelumnya dan naik 140 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pemangkasan terbesar terjadi di sektor teknologi, pemerintahan, dan ritel. Laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan besar seperti IBM, Duolingo, dan Axel Springer juga ikut melakukan pengurangan jumlah karyawan.
Perubahan Data yang Membuat Kekhawatiran
Departemen Tenaga Kerja merilis revisi tajam terhadap data ketenagakerjaan Mei dan Juni. Jumlah penambahan lapangan kerja pada Juni direvisi turun dari 147.000 menjadi hanya 14.000, sedangkan data Mei direvisi dari 144.000 menjadi 19.000. Revisi ini semakin memperkuat kekhawatiran tentang efektivitas kebijakan Trump.
Produksi Industri Tersendat
Selain angka ketenagakerjaan, produksi industri AS juga mengalami tekanan. Pada Juni, produksi industri hanya naik 0,3 persen setelah dua bulan stagnan. Sektor otomotif bahkan mengalami penurunan sebesar 2,6 persen karena melemahnya permintaan di tengah tarif baru. Output pertambangan juga turun 0,3 persen.
Para analis menilai bahwa kebijakan tarif Trump menjadi faktor utama perlambatan tersebut. Tarif 10 persen yang diterapkan pada semua negara, selain pungutan tambahan pada baja, mobil, dan produk strategis lainnya, menyebabkan kenaikan biaya impor yang akhirnya ditanggung oleh konsumen.
Perusahaan besar seperti Walmart, Mattel, dan Ford harus menaikkan harga produk mereka akibat tekanan tarif. Ini menunjukkan bahwa kebijakan ini tidak hanya memengaruhi industri, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat.
Teknologi dan AI Memengaruhi Lapangan Kerja
Sektor teknologi juga mengalami pukulan besar. Bukan hanya akibat tarif, tetapi juga kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menyebabkan banyak perusahaan melakukan pemangkasan karyawan. Perusahaan besar seperti IBM, Duolingo, dan Axel Springer mengalami PHK massal yang dikaitkan dengan otomatisasi berbasis AI.
Alasan utama adalah tekanan biaya, keterbatasan tenaga kerja asing, dan ketidakpastian ekonomi. Akibatnya, lapangan kerja manusia di sektor teknologi berkurang drastis, sementara AI mengambil alih peran tersebut.
Pertumbuhan Upah yang Melambat
Indikator lain yang mencerminkan perlambatan ekonomi adalah laju pertumbuhan upah yang menurun. Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja, kenaikan upah hanya sebesar 0,3 persen pada Juli dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, upah tumbuh 3,9 persen, masih di atas inflasi, namun lebih lambat dibanding awal tahun.
Perlambatan ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi akibat kebijakan tarif. Perusahaan di berbagai sektor, terutama manufaktur dan teknologi, harus mengalokasikan dana tambahan untuk menutup biaya produksi. Hal ini membuat ruang untuk menaikkan gaji pekerja menjadi lebih sempit.
Tidak hanya itu, banyak perusahaan juga membatasi bonus tahunan. Ini menyebabkan tren pertumbuhan upah melambat dibanding awal tahun. Tekanan biaya, PHK massal, dan ketidakpastian pasar tenaga kerja membuat perusahaan lebih hati-hati dalam menaikkan gaji. Jika tidak diantisipasi, hal ini bisa menjadi pemicu perlambatan ekonomi yang lebih dalam.


Comment