Berita Regional

Pemkot Bogor Siapkan Lahan PSEL Berkapasitas 2.500 Ton Sampah Per Hari

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama jajaran Pemkot Bogor saat meninjau lokasi PSEL di Kayu Manis, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (21/7/2026).(KOMPAS.com/REGI PRATASYAH VASUDEWA)

Gardupedia.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersiap merealisasikan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan total kapasitas pengolahan hingga 2.500 ton sampah per hari. Langkah ini diambil sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan krisis sampah perkotaan melalui pemanfaatan teknologi berbasis energi terbarukan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa Pemkot Bogor telah mengajukan kesiapan lahan kepada Kementerian Lingkungan Hidup (LH) untuk diverifikasi. Dari hasil evaluasi awal, Kota Bogor dinyatakan telah memenuhi syarat teknis untuk proyek tersebut.

“Kami mengajukan lokasi ke Kementerian LH agar dinilai pemenuhan persyaratannya. Alhamdulillah, Kota Bogor dikategorikan siap,” ujar Dedie saat dihubungi, Selasa (21/7/2026).

Pembangunan infrastruktur PSEL ini mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Kebijakan ini masuk dalam skema Program Strategis Nasional (PSN) yang mencakup 35 kawasan di Indonesia dengan sistem pengelolaan berbasis aglomerasi.

Dalam perencanaannya, wilayah Bogor terbagi ke dalam dua zona aglomerasi:

Tak Ingin Latihan di Pasar Lagi, Veda Ega Desak Sirkuit Yogyakarta Segera Dibangun

  1. Fasilitas PSEL dipusatkan di wilayah Galuga dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.
  2. Pembangunan PSEL direncanakan bertempat di kawasan Kayumanis, Kota Bogor.

Dedie menekankan pentingnya terobosan teknologi dalam penanganan limbah. Menurutnya, metode pengelolaan sampah konvensional yang hanya mengandalkan proses pemilahan dan pengiriman ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) lambat laun akan memicu masalah lingkungan baru akibat krisis kapasitas (overcapacity).

“Memilah, membuang, dan mengirim sampah ke TPAS secara terus-menerus akan membebani lahan hingga melebihi kapasitas. Dampaknya adalah kerusakan lingkungan dan gangguan kenyamanan warga, yang saat ini sudah terjadi di berbagai wilayah Indonesia,” kata Dedie.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Rudy Mashudi, menjelaskan bahwa sisa limbah (residu) yang masuk ke PSEL nantinya diolah menjadi pasokan energi listrik. Dalam skema ini, PT PLN (Persero) bertindak sebagai pembeli daya (off-taker).

Rudy menambahkan, selain menjadi solusi pengelolaan sampah, proyek PSEL juga sejalan dengan komitmen pemerintah pusat untuk menekan emisi karbon dan mempercepat transisi energi.

“Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat untuk mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil, khususnya yang bersumber dari batu bara,” terang Rudy, Rabu (22/7/2026).

Warga Indramayu Krisis Air Bersih: Sumur Kering, Berubah Jadi Asin

Meskipun pengolahan sampah berbasis teknologi tingkat lanjut akan segera dibangun, Pemkot Bogor menegaskan bahwa strategi penanganan sampah dari hulu ke hilir tetap berjalan. Edukasi dan pemilahan sampah akan terus digencarkan mulai dari tingkat komunitas warga, sektor komersial, hingga lembaga pendidikan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *