Gardupedia.com – Warga Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, belakangan ini mendadak sibuk menyambut tamu dari berbagai daerah. Penyebabnya adalah sebuah patung macan putih yang berdiri di pertigaan desa tersebut. Alih-alih memberikan kesan garang layaknya sang raja hutan, patung ini justru memancing gelak tawa karena bentuk wajahnya yang dinilai lucu dan tidak proporsional.
Sejak foto dan videonya tersebar di media sosial, patung ini langsung menjadi pembicaraan hangat netizen. Banyak yang memberikan komentar jenaka dengan menyebut patung tersebut lebih mirip dengan perpaduan antara kuda nil, zebra, hingga tapir. Bentuk badannya yang cenderung “gemuk” atau gemoy membuat citra macan yang seharusnya menyeramkan hilang sepenuhnya.
Meskipun menuai beragam reaksi sarkas di internet, banyak juga warga yang mengingatkan agar publik tetap menghargai hasil karya seni masyarakat setempat, apa pun bentuk akhirnya.
Siapa sangka, ejekan netizen justru menjadi berkah tersendiri. Patung macan putih ini kini berubah menjadi ikon baru dan objek wisata dadakan. Warga dari luar kota, seperti Surabaya, bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan sepeda motor hanya untuk berswafoto (selfie) dengan patung unik tersebut.
Fenomena ini membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi warga desa. Lokasi di sekitar patung kini berubah layaknya pasar kaget. Jika sebelumnya hanya ada sekitar 10 pedagang kecil, kini jumlahnya melonjak hingga lebih dari 100 pedagang. Tidak hanya kuliner, kreativitas warga juga muncul lewat penjualan suvenir seperti kaus sablon bergambar patung macan “kuda nil” tersebut yang laku keras.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa pembangunan patung tersebut sebenarnya terinspirasi dari legenda lokal macan putih yang turun-temurun dipercaya masyarakat setempat. Menariknya, pembangunan patung yang kini viral tersebut diketahui menggunakan dana pribadi sang kepala desa, yakni sekitar Rp3,5 juta.
Meski sempat mendapat tawaran dari kolektor asal Bali yang berminat membeli patung tersebut, pihak desa dan sang pematung, Mbah Suwari, tampaknya lebih memilih mempertahankan ikon desa tersebut karena manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Kedepannya, Pemerintah Desa Balongjeruk berencana untuk menata ulang area tersebut agar lebih aman dan nyaman bagi para wisatawan yang ingin berkunjung dan mengabadikan momen bersama si “macan gemoy” tersebut.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment