Gardupedia.com – Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengonfirmasi bahwa mereka akan tetap menyelenggarakan kegiatan Rukyatul Hilal (pemantauan bulan sabit) pada Selasa, 17 Februari 2026.
Langkah ini diambil sebagai prosedur tetap organisasi dalam menentukan awal bulan hijriah, meskipun data perhitungan astronomis menunjukkan posisi hilal yang sangat rendah.
Berdasarkan data perhitungan falak, kondisi hilal pada sore hari ini diprakirakan masih berada di bawah ufuk (minus), yang berarti bulan terbenam lebih dulu dibandingkan matahari. Jarak sudut antara matahari dan bulan juga masih sangat sempit. Secara sains astronomi, hilal dipastikan tidak akan terlihat melalui mata telanjang maupun alat bantu optik.
Meski data menunjukkan hilal mustahil terlihat, PBNU memegang teguh prinsip Ikmul atau Istikmal (menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari). Berikut adalah alasannya:
- Melakukan verifikasi lapangan adalah amanah dari metode Rukyatul Hilal yang dianut NU.
- Hasil observasi dari berbagai titik di Indonesia akan menjadi dasar resmi bagi PBNU untuk memberikan ikhbar (pengumuman) mengenai pergantian bulan.
- Mengingat hilal masih di bawah ufuk, kemungkinan besar bulan saat ini akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal bulan baru akan jatuh pada lusa.
Keputusan resmi mengenai awal bulan baru akan diumumkan segera setelah LF PBNU menerima laporan dari para perukyat di seluruh titik pemantauan dari Sabang sampai Merauke.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment