Gardupedia.com – Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump mengambil langkah drastis dengan memutuskan untuk melepas cadangan minyak darurat dalam jumlah besar. Kebijakan ini diambil sebagai respons cepat terhadap situasi genting di Selat Hormuz yang kini tertutup, sebuah jalur vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak, termasuk negara-negara sekutu, karena terjadi perubahan sikap yang sangat mendadak dari Washington. Hanya dalam hitungan jam sebelum keputusan diumumkan, Menteri Energi AS, Chris Wright, sempat menyatakan kepada anggota G7 bahwa intervensi pasar berskala besar belum diperlukan karena harga minyak mulai stabil di bawah 90 dollar AS per barel. Namun, setelah mendapat masukan dari para penasihatnya, Trump secara tiba-tiba mengubah haluan dan memerintahkan pengurasan cadangan minyak.
Badan Energi Internasional (IEA) akhirnya menyetujui pelepasan total 400 juta barel minyak dari cadangan darurat 32 negara anggotanya. Langkah ini tercatat sebagai intervensi pasar minyak terbesar sepanjang sejarah IEA, melampaui rekor saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang “hanya” sebesar 182 juta barel.
Amerika Serikat sendiri mengambil porsi terbesar dengan melepas lebih dari 100 juta barel. Dampaknya, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS diprediksi akan merosot ke level terendah sejak tahun 2008, jatuh di bawah setengah dari kapasitas totalnya. Kondisi ini cukup kontras dengan janji politik Trump sebelumnya yang ingin mengisi penuh cadangan tersebut.
Meski volume minyak yang dilepas sangat masif, sejumlah pakar meragukan apakah langkah ini mampu menekan harga minyak hingga di bawah 100 dollar AS per barel. Secara matematis, total 400 juta barel tersebut diperkirakan hanya sanggup menutupi kekurangan pasokan selama 20 hari dari volume normal yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Kritik juga datang dari kalangan internal dan pengamat kebijakan energi. Arnab Datta dari Employ America menyebut pemerintah kurang melakukan persiapan matang dalam menghadapi guncangan pasar ini. Senada dengan itu, ekonom dari Capital Economics menilai bahwa kecepatan distribusi minyak darurat dari anggota IEA tidak akan mampu menandingi hilangnya pasokan dari Timur Tengah secara sekaligus, bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Jerman yang awalnya sempat ragu akhirnya memilih untuk ikut serta dalam pelepasan cadangan minyak ini. Keputusan tersebut diambil demi menjaga kekompakan global, meski mereka tetap memberikan catatan kritis mengenai dinamika harga pasar yang saat ini masih bergejolak di kisaran 110 dollar AS per barel.
Pihak Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menegaskan bahwa keputusan ini adalah bentuk penggunaan cadangan strategis secara bertanggung jawab di waktu yang tepat demi melindungi stabilitas ekonomi.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment