Berita Ekonomi

Harga Plastik di Padang Melambung hingga 150 %, Pedagang Khawatir Warga Kembali Gunakan Daun

Grosir plastik di kawasan Pasar Raya Kota Padang mulai merasakan kenaikan harga plastik pasca konflik di kawasan timur tengah hingga menyentuh angka 150 persen, Selasa (7/4/2026).(Rahmat Panji (Kompas.com))

Gardupedia.com – Lonjakan harga plastik yang terjadi di Kota Padang, Sumatera Barat, kian meresahkan para pelaku usaha. Kenaikan harga yang sangat drastis ini memicu kekhawatiran bahwa masyarakat akan beralih kembali menggunakan pembungkus tradisional seperti daun jika kondisi ini terus berlanjut.

Yusneli, seorang pedagang grosir plastik di Pasar Raya Padang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis produk plastik. Menurutnya, situasi ini merupakan salah satu yang terparah karena kenaikannya mencapai angka yang tidak wajar.

“Jika harganya terus meroket seperti ini, bukan tidak mungkin masyarakat akan kembali ke cara lama, yakni menggunakan daun sebagai pembungkus,” ujar Yusneli saat ditemui pada Selasa (7/4/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga plastik ini memang cukup signifikan. Sebagai contoh, plastik jenis PE yang biasanya dijual seharga Rp27.000 per kilogram, kini melonjak tajam hingga menyentuh Rp55.000 per kilogram. Secara persentase, kenaikan tersebut sudah melebihi 100 persen.

Tak hanya itu, Yusneli menyebutkan bahwa fluktuasi harga terjadi sangat cepat. Seringkali, harga modal yang ia dapatkan dari distributor sudah berubah hanya dalam hitungan hari. Ia mencontohkan, suatu hari harga modal masih berada di angka tertentu, namun keesokan harinya saat hendak menyetok ulang, harga sudah naik hingga ribuan rupiah per kilogram.

Menkes Tegas Coret Orang Kaya yang Masih Jadi Peserta PBI BPJS!

Kondisi ini membuat para pedagang grosir terjepit. Di satu sisi mereka sulit menaikkan harga terlalu tinggi kepada pelanggan, namun di sisi lain modal yang dikeluarkan terus membengkak. “Di tingkat grosir, kami hampir tidak mendapat untung. Jika situasi ini bertahan lama, kami terancam bangkrut,” tambahnya.

Meskipun harga melambung tinggi, permintaan terhadap plastik sejauh ini belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Hal ini disebabkan karena plastik merupakan kebutuhan pokok (vital) bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sandy, seorang pemilik warung kopi (warkop) di Padang, mengaku sangat merasakan dampak tersebut. Kebutuhannya tidak terbatas pada plastik pembungkus saja, tetapi juga mencakup kantong kresek, karet gelang, hingga sedotan.

“Seluruh item kebutuhan kemasan itu naik rata-rata 100 persen. Ini benar-benar dilema bagi kami,” kata Sandy.

Hingga saat ini, Sandy masih berusaha mempertahankan harga menu di warkopnya demi menjaga kesetiaan pelanggan. Namun, ia tidak menampik kemungkinan akan melakukan penyesuaian harga jika beban operasional akibat mahalnya plastik sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Bagi Sandy, menaikkan harga adalah pilihan terakhir yang lebih masuk akal dibandingkan harus mengorbankan kualitas sajian makanannya.

Cedera Kronis Paksa Viktor Axelsen Pensiun Dini di Dunia Bulutangkis

Kenaikan harga plastik di Indonesia sendiri diduga kuat dipicu oleh faktor global, yakni ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menghambat pasokan naphtha turunan minyak bumi yang merupakan bahan baku utama pembuatan plastik.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *