Berita Internasional

Selat Hormuz Memanas: Teheran Kecam Keras Operasi Militer Amerika Serikat

Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.(US CENTRAL COMMAND (CENTCOM) via AFP)

Gardupedia.com – Situasi di Selat Hormuz semakin tegang setelah militer Amerika Serikat meluncurkan aksi ofensif terhadap pasukan Iran. Pihak Washington mengonfirmasi telah menembak dan menenggelamkan enam unit kapal kecil milik Iran yang dituding melakukan intimidasi terhadap kapal-kapal sipil yang melintas di jalur tersebut.

Operasi militer ini dilakukan AS dengan misi utama untuk menjamin keamanan serta membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang sempat terhambat. Upaya ini membuahkan hasil sementara dengan keberhasilan dua kapal dagang berbendera Amerika Serikat melintasi selat tersebut di bawah pengawalan ketat armada militer.

Namun, keberhasilan misi AS tersebut dibarengi dengan meluasnya konflik ke wilayah Teluk lainnya. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan adanya serangan udara masif yang memecah ketenangan sejak kesepakatan gencatan senjata pada awal April lalu.

Pada Senin (4/5/2026), otoritas pertahanan UEA bekerja keras menghalau serangan yang menyasar wilayah mereka. Setidaknya 15 rudal dan empat pesawat tanpa awak (drone) berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara negara tersebut sebelum mengenai target.

Pihak Iran sendiri mengecam keras tindakan militer Amerika Serikat ini. Teheran melabeli operasi Washington sebagai tindakan ilegal yang justru memicu instabilitas lebih lanjut di kawasan. Di sisi lain, dunia internasional terus memantau dampak konflik ini, terutama terhadap keamanan navigasi maritim dan stabilitas ekonomi global yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Pakar Mikrobiologi Ubaya Ungkap Alasan Hantavirus dari Varian Andes Sangat Berbahaya

Presiden AS, Donald Trump, memperkenalkan operasi ini sebagai bagian dari “Project Freedom” (Proyek Kebebasan). Ia berargumen bahwa misi tersebut murni bersifat kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal dagang dari negara netral yang terjebak akibat blokade di Teluk Persia. Trump juga memberikan peringatan keras bahwa setiap upaya Iran untuk mengganggu jalur navigasi internasional akan dihadapi dengan tindakan tegas.

Namun, tuduhan tersebut dibantah keras oleh Iran. Melalui pernyataan resminya, otoritas Teheran balik menuduh Amerika Serikat telah melakukan petualangan militer yang serampangan. Iran menegaskan bahwa kehadiran pasukan AS justru menciptakan rute ilegal dan melanggar prinsip gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.

Pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa mereka tidak akan mengubah kebijakan pengelolaan Selat Hormuz. Mereka memperingatkan bahwa setiap kapal yang bergerak tanpa izin atau melanggar protokol keamanan yang ditetapkan IRGC akan menghadapi risiko besar.

Ketegangan ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global. Harga minyak dunia, khususnya jenis Brent, dilaporkan melonjak hingga menembus angka 111 dollar AS per barel akibat kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi. Hingga saat ini, banyak perusahaan pelayaran internasional masih ragu untuk melintasi Selat Hormuz meskipun AS menawarkan pengawalan militer, karena jaminan keamanan di wilayah tersebut masih dianggap sangat minim.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Insiden Kapal Imigran Ilegal Indonesia Terbalik di Perairan Malaysia: 4 Orang Tewas, 23 Ditahan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *