Gardupedia.com — Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menetapkan sasaran terukur dalam menekan angka pengangguran terbuka nasional. Pada tahun 2027, pemerintah menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dapat dipangkas hingga mencapai kisaran 4,30 persen hingga 4,87 persen.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui pembukaan lapangan kerja berskala masif serta penguatan proporsi tenaga kerja di sektor formal.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) serta Penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027 di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Target TPT sebesar 4,30–4,87 persen pada 2027 ini mengalami perbaikan dibandingkan dengan target periode sebelumnya yang berada pada rentang 4,44 persen hingga 4,96 persen. Guna merealisasikan hal tersebut, pemerintah berfokus memperluas penciptaan lapangan kerja formal secara signifikan.
Pemerintah memproyeksikan proporsi tenaga kerja di sektor formal akan naik menjadi 40,81 persen pada 2027, meningkat sebesar 5,81 persen dibandingkan target tahun 2026 yang sebesar 35,00 persen.
“Kita juga akan membuka lapangan kerja secara besar-besaran, ditargetkan proporsi lapangan kerja formal meningkat menjadi 40,81 persen di tahun 2027,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para anggota dewan pada Jumat 14 Agustus 2026 .
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi nasional harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan rakyat dan penurunan angka kemiskinan di tanah air.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan makna jika tidak sejalan dengan target kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama dari seluruh gerak pembangunan nasional,” tegas Kepala Negara.
Sejalan dengan agenda pengetasan kemiskinan, pemerintah juga menargetkan angka kemiskinan nasional turun ke kisaran 6,0 persen hingga 6,5 persen pada 2027, lebih baik dari target sebelumnya di rentang 6,5 persen hingga 7,5 persen. Sementara itu, tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat atau Rasio Gini dipatok membaik pada rentang 0,362 hingga 0,367.
Presiden menggarisbawahi bahwa kesenjangan sosial antar-lapisan masyarakat harus terus diperkecil melalui kebijakan fiskal yang berkeadilan.
“Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit,” tambah Prabowo.
Pencapaian target indikator kesejahteraan tersebut ditopang oleh optimisme pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Proyeksi ini diposisikan sebagai pijakan awal yang kokoh menuju target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa instrumen APBN akan terus dikelola secara hati-hati (prudent) dan berkelanjutan demi memastikan APBN benar-benar hadir sebagai alat perlindungan rakyat serta penopang utama perekonomian nasional.


Comment