Ekonomi

Negara Asia Paling Terdampak Tarif Trump

Perekonomian Asia Terpuruk Akibat Tarif Impor yang Diumumkan oleh Presiden AS

Perekonomian di kawasan Asia mengalami tekanan signifikan akibat kebijakan tarif impor yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kebijakan ini dikeluarkan pada “Hari Pembebasan” bulan April 2025, yang memicu reaksi dari berbagai negara di Asia. Sejumlah negara yang sebelumnya menjadi sekutu dagang AS mulai mencari solusi untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan tersebut.

Sekutu Utama AS: Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan

Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan yang memiliki hubungan erat dengan AS serta industri penting seperti mobil dan semikonduktor menghadapi tarif yang cukup tinggi. Jepang dan Korea Selatan mendapatkan pengurangan tarif dari 25 persen menjadi 15 persen setelah melakukan negosiasi dengan pihak AS. Sementara itu, Taiwan juga berhasil menurunkan tarif dari 32 persen menjadi 20 persen.

Meskipun demikian, presiden Taiwan, Lai Ching-te menyatakan bahwa tarif tersebut bersifat sementara karena negosiasi masih berlangsung. Di sisi lain, Australia berhasil menghindari kenaikan tarif, sedangkan Selandia Baru justru mengalami kenaikan dari 10 persen menjadi 15 persen. Menteri Perdagangan Selandia Baru, Todd McClay menilai bahwa negaranya dihukum secara tidak adil dan telah meminta negosiasi lebih lanjut.

China dan India

China, meskipun tidak langsung terkena pengumuman tarif Trump, tetap menjadi perhatian utama dalam diskusi perdagangan. Pembicaraan antara Beijing dan Washington meningkat dalam beberapa bulan terakhir. China mungkin akan memperoleh penangguhan atas kontrol ekspor teknologi utama AS, sebagai imbalan atas pasokan mineral tanah jarang.

Di sisi lain, India dikenakan tarif 25 persen atas barang-barang yang diimpor dari AS. Keputusan ini disertai denda atas pembelian minyak dan senjata Rusia oleh India. Hubungan Delhi dengan Moskow dianggap sebagai titik iritasi dalam hubungan India dan AS, sehingga India hanya mendapatkan sedikit pengurangan dari 27 persen menjadi 25 persen.

Menteri UMKM Larang Keras E-Commerce Terkait Kenaikan Biaya Layanan dan Ongkir

Negara-Negara ASEAN

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menghadapi situasi yang sangat berbeda. Pada awalnya, tarif yang diberlakukan mencapai 49 persen, yang memberikan dampak besar pada berbagai industri seperti elektronik, chip, dan pakaian. Vietnam menjadi yang pertama mencapai kesepakatan dengan AS, sehingga tarifnya turun dari 46 persen menjadi 20 persen.

Sebagian besar negara ASEAN, termasuk Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam, kini dikenakan tarif sebesar 19-20 persen. Brunei Darussalam memiliki tarif sedikit lebih tinggi, yaitu 25 persen. Sementara itu, Laos dan Myanmar terdampak paling parah dengan tarif tertinggi kedua, yaitu 40 persen. Singapura tetap dikenakan tarif 10 persen karena jumlah impor dari AS lebih besar daripada ekspornya.

Negara Lain di Asia

Di kawasan Indo-Pasifik, tarif yang diberlakukan oleh AS bervariasi. Pakistan mendapatkan tarif terendah di antara negara-negara Asia Selatan, yaitu 19 persen. Hal ini didorong oleh hubungan yang hangat antara Pakistan dan AS. Tekstil, yang menyumbang hampir 60 persen dari total ekspor Pakistan, menjadi fokus utama dari tarif yang relatif rendah ini.

Afghanistan, Fiji, Nauru, dan Papua Nugini dikenakan tarif 15 persen, sedangkan Kazakhstan menerima tarif 25 persen. Berbagai negara di Asia terus berupaya untuk mencapai kesepakatan dagang guna mengurangi dampak dari kebijakan tarif yang diberlakukan oleh AS.

Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Kesepakatan China Impor Minyak dari AS

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *