Tekanan terhadap Ketua Federal Reserve Meningkat
Tekanan terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, kembali meningkat. Sebelumnya, tekanan hanya datang dari Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintah. Kini, suara serupa juga mulai muncul dari kalangan ekonom ternama. Mereka berpandangan bahwa pengunduran diri Powell bisa menjadi langkah terbaik untuk menjaga independensi lembaga moneter tertinggi Amerika Serikat (AS).
Di tengah sorotan publik terhadap kontroversi renovasi gedung The Fed dan dugaan penyimpangan wewenang, para pengamat menilai citra lembaga ini semakin tercoreng. Bagi sebagian pihak, mempertahankan Powell hanya akan memperbesar tekanan politik dan memperburuk persepsi publik terhadap netralitas The Fed.
Lalu, apakah benar mundurnya Powell adalah solusi menyelamatkan kredibilitas bank sentral AS? Berikut analisisnya:
Reputasi The Fed Terancam
Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintahan Amerika Serikat kembali mendesak Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, untuk mengundurkan diri. Kini, beberapa ekonom terkemuka turut menyuarakan dukungan atas wacana tersebut.
Ekonom senior dan mantan CEO PIMCO, Mohamed El-Erian, melalui akun X (sebelumnya Twitter) pada Selasa pagi mengatakan, pengunduran diri Powell dapat menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan independensi The Fed. Pernyataan El-Erian muncul sehari setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menyerukan audit internal terhadap bank sentral AS. Dalam unggahannya di X, Bessent menyebut ekspansi kelembagaan dan pelebaran fungsi The Fed telah mengancam independensi kebijakan moneternya.
Menurut El-Erian, meningkatnya kontroversi seputar Powell, termasuk kritik terhadap proyek renovasi gedung The Fed, telah berdampak pada kredibilitas institusi secara keseluruhan. Ia menilai, meskipun pengunduran diri Powell bukanlah solusi ideal, langkah tersebut dinilai lebih baik dibanding terus membiarkan tekanan terhadap independensi The Fed semakin meluas.
“Jika Powell tetap menjabat, ancaman terhadap independensi The Fed kemungkinan akan terus membesar,” ujar El-Erian. Ia menambahkan, sejumlah kandidat pengganti Powell dinilai mampu meredam gejolak pasar.
Dukungan dari Ekonom Lain
Dukungan terhadap wacana mundurnya Powell juga datang dari ekonom Wharton, Jeremy Siegel. Dalam wawancara dengan CNBC, Siegel menyatakan, pengunduran diri Powell justru bisa memperkuat otonomi jangka panjang The Fed.
Ia juga mengkhawatirkan potensi tekanan politik apabila perekonomian memburuk pada paruh kedua tahun ini. Menurut Siegel, Trump dapat menjadikan Powell sebagai kambing hitam atas keterlambatan penurunan suku bunga, dan memanfaatkannya untuk mendorong Kongres memberikan wewenang lebih besar atas bank sentral.
Siegel menyebut dua nama potensial yang bisa menggantikan Powell, yakni Kevin Hasset dan Kevin Warsh, sebagai sosok yang layak dipertimbangkan.
Pandangan Scott Bessent Dinilai Lebih Moderat
Meskipun sempat mengkritik lembaga The Fed, Bessent sendiri mengambil posisi lebih moderat terkait nasib Powell. Dalam wawancara dengan Fox Business, Selasa pagi, ia mengatakan, tidak ada alasan mendesak untuk Powell mengundurkan diri saat ini.
“Masa jabatannya berakhir Mei tahun depan. Jika ia ingin menyelesaikannya, silakan. Jika memilih mundur lebih awal, itu juga haknya,” ujar Bessent.
Mundurnya Jerome Powell mungkin bukan solusi sempurna, tetapi bagi sejumlah ekonom, itu bisa menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan politik dan mengembalikan kepercayaan terhadap independensi The Fed.
Di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, menjaga netralitas dan kredibilitas bank sentral menjadi prioritas utama. Pada akhirnya, keputusan Powell—bertahan atau mundur—akan membawa dampak besar, bukan hanya bagi pasar keuangan AS, tetapi juga bagi arah kebijakan moneter dunia.


Comment