Kadin Optimis Perjanjian Dagang dengan Uni Eropa Tingkatkan Ekspor Indonesia
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyambut positif disepakatinya kerja sama dagang antara Indonesia dengan Uni Eropa. Kesepakatan ini diwujudkan dalam bentuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto saat bertemu petinggi Uni Eropa di Brussels, pada 13 Juli 2025.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Luar Negeri, Pahala Mansury, mengungkapkan bahwa perjanjian ini menjadi momentum penting untuk memperluas pasar ekspor Indonesia. Menurutnya, kesepakatan ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pasar ekspor terhadap satu negara saja.
“Kesepakatan ini akan memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Kadin Institute di Jakarta Selatan, pada 4 Agustus 2025.
Pahala menjelaskan bahwa tiga kawasan utama tujuan ekspor Indonesia saat ini adalah Cina, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Namun, ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap pasar Cina terlalu tinggi. Sementara itu, akses ke pasar Eropa dan Amerika masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, kedua kawasan tersebut memiliki potensi besar karena populasi mencapai lebih dari 700 juta jiwa. Dengan adanya IEU-CEPA, ia berharap peningkatan ekspor ke kawasan tersebut mampu meningkatkan net ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain IEU-CEPA, Pahala juga menyebut kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat bisa berkontribusi terhadap peningkatan ekspor Indonesia. Dalam perjanjian tersebut, Amerika Serikat memberikan tarif ekspor sebesar 19 persen terhadap Indonesia. Kesepakatan ini juga menetapkan tarif nol persen untuk beberapa produk impor AS ke Indonesia.
“Tarif tersebut lebih rendah dibandingkan beberapa negara pesaing,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa kedua kesepakatan tersebut tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga membuka peluang investasi dari negara-negara tersebut ke Indonesia.
Potensi Besar dari IEU-CEPA
Terbentuknya kesepakatan Indonesia–EU melalui IEU-CEPA dinilai sebagai peluang strategis bagi ekspor nasional. Pemerintah memperkirakan kenaikan ekspor hingga 50 persen dalam tiga tahun setelah implementasi penuh perjanjian tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa melalui IEU-CEPA, performa ekspor Indonesia bisa menyaingi negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia. Kedua negara tersebut telah lebih dulu menandatangani perjanjian dagang dengan Uni Eropa.
Salah satu manfaat utama dari IEU-CEPA adalah pembebasan tarif bea masuk bagi sekitar 80 persen produk ekspor Indonesia. Produk unggulan seperti tekstil, ikan, alas kaki, otomotif, hingga minyak kelapa sawit (CPO) akan menikmati tarif nyaris nol persen.
Poin krusial dalam negosiasi adalah penerimaan kembali produk sawit Indonesia yang sebelumnya dikecualikan oleh Uni Eropa karena isu lingkungan. Kini, sawit Indonesia masuk dalam cakupan IEU-CEPA dengan klasifikasi food grade dan bahan bakar (fuel).
Sektor otomotif juga menjadi fokus. Pemerintah mendorong insentif dan relaksasi agar kendaraan buatan dalam negeri, termasuk kendaraan listrik, dapat bersaing di pasar Eropa.
Ekosistem Perdagangan dan Investasi yang Lebih Sehat
IEU-CEPA menciptakan ekosistem perdagangan dan investasi yang lebih sehat. Perjanjian ini mencakup 24 elemen utama, mulai dari perdagangan barang dan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, standar sanitasi dan fitosanitasi (SPS), perdagangan digital, hingga energi dan pengadaan pemerintah.
IEU-CEPA diklaim bisa membuka peluang investasi asing langsung (FDI) yang lebih besar dari Eropa. Pada 2023, Uni Eropa berada di posisi ke-8 penyumbang investasi ke Indonesia dengan nilai 2,33 miliar dolar AS, namun turun menjadi 1,1 miliar dolar AS pada 2024.
“Pemerintah menargetkan dokumen hukum IEU-CEPA rampung pada September 2025. Sedangkan implementasi penuh direncanakan pada kuartal I 2027, setelah proses ratifikasi oleh 27 negara anggota Uni Eropa selesai,” kata Airlangga.


Comment