Kehidupan yang Penuh Perjuangan dan Keteguhan
Hadirnya buah hati dalam sebuah pernikahan sering kali menjadi harapan terbesar bagi pasangan. Namun, proses menuju kehadiran anak ini tidak selalu mulus. Ada yang merasakan jalan yang mudah, sementara ada pula yang menghadapi berbagai tantangan. Setelah sang bayi lahir, tugas utama orang tua adalah mendidik dan membimbingnya menjadi manusia tangguh. Jika anak lahir dengan kondisi normal, proses pendidikan bisa lebih mudah dilakukan. Orang tua dapat memberikan contoh dan aturan yang jelas. Dengan demikian, anak akan meniru perilaku orang tua secara alami.
Namun, jika anak memiliki kondisi fisik atau mental yang berbeda dari biasanya, maka proses pendidikan menjadi lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah Safira Salsabila Adzikra, seorang gadis kelas 7 yang mengalami gangguan pendengaran sangat berat sejak lahir. Kondisi ini membuatnya hanya mampu mendengar suara dengan getaran tinggi seperti drum set atau pesawat terbang. Dunia yang ia rasakan pun sunyi dan senyap. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan, kecuali beberapa ucapan singkat yang tidak mempunyai makna.
Kenyataan ini menjadi duka besar bagi kedua orang tuanya. Mereka melakukan berbagai upaya pengobatan, baik tradisional maupun medis, untuk membantu putri mereka. Biaya yang dikeluarkan mencapai ratusan juta rupiah, namun hasilnya belum memuaskan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencari bantuan dari dokter spesialis THT, dr. Yongki, Sp.THT-KL., yang merekomendasikan Safira untuk dirujuk ke Kasoem Hearing Center Bandung.
Setelah beberapa bulan menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD), Safira masih kesulitan merespon panggilan. Akhirnya, pada usia 3,5 tahun, Safira menjalani operasi cochlear implant di belakang telinga kanannya. Operasi ini dilakukan setelah melewati berbagai pemeriksaan seperti BERA, ASSR, MRI, dan CT Scan. Meskipun biaya yang dikeluarkan sangat besar, kedua orang tua Safira rela mengorbankan segalanya demi masa depan putrinya.
Alhasil, Safira bisa mendengar kembali. Ia mulai menikmati suara burung, suara ibunya, dan merespons panggilan dengan senyuman. Namun, ini bukan akhir dari perjuangan. Di awal masa penyesuaian, Safira sempat merasa takut dan cemas. Sang ibu harus sabar dan tekun mengajarkan huruf vokal, suku kata, hingga kalimat. Setiap kata yang diajarkan harus diulang ribuan kali agar Safira dapat mengingat dan menirukannya.
Perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada saat-saat di mana sang ibu hampir menyerah karena tekanan lingkungan dan ucapan-ucapan menyakitkan dari teman-temannya. Safira pernah berkata, “Mama, aku benci diriku sendiri.” Namun, sang ibu tetap bertekad untuk membimbing putrinya. Ia percaya bahwa ketekunan dan kesabaran akan membawa Safira menjadi sosok yang tangguh.
Perjuangan ini bukan hanya tentang penyembuhan fisik, tapi juga tentang pembentukan karakter dan semangat hidup. Safira kini tumbuh menjadi remaja yang penuh harapan. Semangat dan keteguhan orang tuanya telah menjadi inspirasi baginya. Dengan dukungan keluarga, Safira terus berjuang untuk menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Penjelasan Teknis
BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) adalah metode uji pendengaran yang digunakan untuk mengecek fungsi saraf pendengaran. Biasanya dilakukan pada anak-anak yang belum kooperatif, dengan kondisi pemeriksaan dilakukan saat anak sedang tidur.
ASSR (Auditory Steady-State Response) adalah pemeriksaan untuk mengecek kondisi saraf pendengaran dan menghasilkan audiogram. Metode ini umumnya digunakan untuk anak-anak yang belum mampu bekerja sama selama pemeriksaan.
Kisah ini terinspirasi dari perjuangan Bu Santi Nurani, ibu Safira, dalam membimbing putrinya. Kisah lengkapnya akan segera dirilis dan ditulis oleh Bu Santi sendiri.


Comment