Kasus Kematian Sapi Bunting di Lembang Bandung
Kasus kematian sapi bunting yang terjadi di Lembang, Bandung, Jawa Barat, menimbulkan kekhawatiran besar bagi para peternak dan pengusaha ternak. Kejadian ini tidak hanya memengaruhi jumlah hewan ternak tetapi juga mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap kualitas daging sapi.
Beberapa peternak lokal mengaku merasa cemas akibat peristiwa ini. Salah satu dari mereka adalah Enok, seorang peternak di kawasan Lembang, yang menyatakan bahwa ia telah kehilangan lebih dari sepuluh ekor sapi dalam beberapa minggu terakhir. Ia menjelaskan bahwa gejala awal yang muncul pada sapi tersebut berupa kaki yang bengkak, tidak keluar susu, dan indukan mati dalam hitungan jam.
“Setelah induknya mati, pedetnya ikut mati karena tidak ada susu. Kami pikir ini bukan PMK, karena gejalanya berbeda,” ujar Enok. Menurutnya, organ dalam beberapa sapi yang dibedah tampak lebam membiru, kondisi yang tidak biasa ditemukan pada kasus PMK.
Ciri-Ciri Sapi Terkena PMK
Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) pada ternak adalah penyakit menular yang sangat mengkhawatirkan bagi peternak. Meskipun PMK bukan termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, daging sapi yang terinfeksi PMK umumnya tidak laku dipasaran karena masyarakat takut tertular.
PMK disebabkan oleh virus genus Aphtovirus, yaitu Aphtaee epizootecae (virus tipe A) dari keluarga picornaviridae. Penyakit ini bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba, rusa, babi, unta, dan beberapa hewan liar.
Gejala klinis PMK antara lain demam tinggi bisa mencapai 41°C dan menggigil, tidak nafsu makan (anorexia), penurunan produksi susu drastis pada sapi, kehilangan bobot badan, kehilangan kontrol panas tubuh, myocarditis dan abortus pada hewan muda, pembengkakan limfoglandula mandibularis, hipersalivasi (air liur berlebihan), serta adanya lepuh dan erosi di sekitar mulut, moncong, hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku, dan puting ambing.
Penyebab Kematian Sapi Bunting di Lembang
Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah dari beberapa sapi yang mati, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Bandung Barat menyatakan bahwa tidak ada temuan virus penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun kelainan kimia pada darah hewan. Hasil tes menunjukkan kondisi darah dalam batas normal dan negatif PMK. Tidak ditemukan gejala khas seperti luka di mulut atau air liur berlebihan.
Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispernakan Bandung Barat, Acep Rohimat, faktor utama yang memicu kematian sejumlah sapi tersebut adalah kekurangan kalsium dan energi, terutama pada fase setelah melahirkan atau masa laktasi. Kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi pada saat krusial ini berpotensi menyebabkan gangguan metabolik serius pada sapi.
“Ini bukan kasus wabah, melainkan dampak dari kurangnya manajemen nutrisi dan pengelolaan kandang yang baik,” jelas Acep. Fakta lain yang cukup mengejutkan ditemukan saat proses bedah bangkai oleh tim dari Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU). Di dalam perut salah satu sapi, ditemukan benda asing berupa paku dan gulungan tambang, yang diduga tertelan saat sapi mencari pakan.
Meskipun temuan itu menambah kompleksitas kasus, Dispernakan belum dapat menyimpulkan apakah benda asing tersebut berasal dari kelalaian peternak atau akibat sistem pengelolaan kandang yang tidak memadai.
Langkah Antisipasi dari Dispernakan
Sebagai langkah antisipasi, Dispernakan mengimbau para peternak untuk lebih memperhatikan kebutuhan nutrisi sapi, terutama menjelang kelahiran, serta menjaga kebersihan dan keamanan kandang. “Pemberian kalsium cukup, biosekuriti, dan lingkungan kandang yang baik akan sangat membantu,” jelas Acep.


Comment