Gardupedia.com – Layanan pengangkutan sampah di wilayah perbatasan Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, kini dilaporkan mengalami kelumpuhan total. Mandegnya operasional ini merupakan dampak langsung dari kebijakan pemangkasan alokasi Dana Desa yang terjadi di awal tahun 2026.
Truk-truk pengangkut sampah tidak lagi berkeliling mengumpulkan limbah rumah tangga dari warga. Pemotongan Dana Desa mengakibatkan desa-desa di Pulau Sebatik tidak lagi memiliki anggaran yang cukup untuk menutupi biaya operasional, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan upah petugas kebersihan. Akibat sampah yang tidak terangkut, terjadi penumpukan di berbagai sudut permukiman warga. Hal ini memicu kekhawatiran akan munculnya bau tidak sedap dan risiko penyakit.
Pemerintah desa setempat menyatakan bahwa mereka berada dalam posisi yang sulit. Dana Desa yang sebelumnya menjadi tumpuan utama untuk pengelolaan kebersihan lingkungan kini dikurangi secara signifikan, sehingga prioritas anggaran harus dialihkan ke sektor lain yang dianggap lebih mendesak oleh regulasi terbaru.
Kondisi ini sangat kontras dengan status Pulau Sebatik sebagai wilayah beranda terdepan Indonesia yang seharusnya mendapat perhatian lebih dalam hal infrastruktur dan kebersihan lingkungan.
Warga berharap ada solusi cepat dari pemerintah pusat maupun daerah agar masalah sampah ini tidak berlarut-larut. Mereka mengusulkan adanya subsidi khusus atau skema pendanaan alternatif agar layanan dasar seperti pengangkutan sampah tetap bisa berjalan meskipun terjadi efisiensi pada Dana Desa.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment