Berita Ekonomi Pemerintahan

Presiden Prabowo Bandingkan MBG dengan McDonald’s, Begini Respons Ekonom

Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dipan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (8/1/2026). Menurut data Badan Gizi Nasional (BGN), program MBG telah menambah lapangan pekerjaan baru khususnya di SPPG dengan merekrut sedikitnya 789.318 orang per Januari 2026 atau rata-rata mengalami peningkatan sebanyak 65.817 per bulan sejak setahun terakhir. (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)

Gardupedia.com – Dalam forum internasional bergengsi, World Economic Forum (WEF) 2026 yang berlangsung di Swiss, Presiden Prabowo Subianto menarik perhatian dengan membandingkan skala program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia dengan jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia, McDonald’s.

Presiden Prabowo mengungkapkan rasa optimistisnya bahwa dalam waktu singkat, jumlah porsi makanan yang didistribusikan melalui program MBG akan melampaui total porsi yang disajikan oleh McDonald’s secara harian. Menurut Prabowo, McDonald’s memerlukan waktu lebih dari 50 tahun (lima dekade) sejak dapur pertamanya berdiri pada tahun 1940 untuk mencapai skala produksi 68 juta porsi.

Sebaliknya, Indonesia menargetkan pencapaian yang jauh lebih cepat. Hingga akhir Januari 2026, pemerintah mengklaim telah memproduksi sekitar 59,8 juta porsi setiap harinya untuk anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Prabowo menargetkan angka ini akan terus melonjak hingga mencapai 82,9 juta porsi per hari pada akhir Desember 2026.

Selain fokus pada pemenuhan gizi, Prabowo menegaskan bahwa MBG merupakan motor penggerak ekonomi rakyat. Ia menyebutkan ada sekitar 61.000 UMKM dan perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok program ini, serta telah menciptakan sekitar 600.000 lapangan kerja baru di sektor dapur produksi. Target jangka panjangnya adalah menciptakan hingga 1,5 juta lapangan kerja langsung.

Meski paparan Presiden terdengar impresif, perbandingan tersebut menuai kritik tajam dari pengamat ekonomi. Awalil Rizky, salah satu ekonom yang memberikan tanggapan, menilai bahwa membandingkan program bantuan sosial pemerintah dengan entitas bisnis seperti McDonald’s adalah hal yang kurang relevan atau “mengherankan.”

Demi Data yang Akurat, Mensos Minta Operator Desa Proaktif Perbarui DTSEN

McDonald’s beroperasi berdasarkan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Mereka menambah produksi jika daya beli masyarakat kuat dan mengurangi porsi jika pasar lesu. Sementara itu, MBG adalah program yang didorong oleh kebijakan politik tanpa mempertimbangkan dinamika permintaan pasar atau daya beli masyarakat.

Ekonom memperingatkan bahwa program MBG sangat bergantung pada kapasitas keuangan negara. Berbeda dengan McDonald’s yang mendatangkan keuntungan finansial, MBG merupakan pengeluaran negara yang besar. Bahkan, terdapat kekhawatiran bahwa ambisi mengejar angka produksi ini mengabaikan realitas kekuatan APBN.

Dari total anggaran yang dialokasikan, sebagian besar (sekitar Rp 67 triliun) disebut-sebut dicadangkan atau menjadi bagian dari manajemen risiko, yang menunjukkan betapa besarnya tantangan finansial dalam menjalankan program berskala raksasa ini secara berkelanjutan.

Meskipun Presiden Prabowo percaya diri bahwa MBG adalah solusi rasional untuk menghapus kemiskinan dan meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus menghemat anggaran jangka panjang (melalui deteksi dini penyakit), para ahli mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap keberlangsungan fiskal dan tidak hanya terjebak pada angka statistik perbandingan dengan sektor swasta.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Dokter Magang Unsri Meninggal Dunia di Jambi, Diduga Akibat Kelelahan Kerja

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *