Berita

Refleksi Hari Ayah Nasional: Fenomena ‘Fatherless’ Mengancam 15,9 Juta Anak Indonesia

Sosok ayah sejatinya bukan hanya pencari nafkah, tapi juga sumber rasa aman dan teladan bagi anak-anaknya.

Gardupedia.com – Peringatan Hari Ayah Nasional setiap tanggal 12 November seharusnya menjadi momen perayaan terhadap kasih sayang dan dedikasi seorang ayah. Namun, perayaan tahun ini diwarnai dengan kekhawatiran serius mengenai meningkatnya fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah, yang mengundang refleksi mendalam tentang makna kehadiran seorang ayah dalam keluarga.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024, 20,1 persen anak Indonesia, atau setara dengan 15,9 juta anak, tumbuh tanpa figur ayah yang hadir secara memadai dalam pengasuhan mereka. Angka ini mencakup 79,4 juta anak di bawah 18 tahun. Dari jumlah tersebut, 4,4 juta anak bahkan tidak tinggal bersama ayah sama sekali, sementara 11,5 juta lainnya memiliki ayah yang bekerja sangat sibuk, yaitu lebih dari 60 jam per minggu. Hal ini menandakan bahwa banyak anak mengalami fatherless society—kondisi di mana ayah secara fisik hadir, namun secara emosional terasa jauh atau menghilang.


Dampak Ketidakhadiran Emosional Ayah

Ketidakhadiran ayah tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga emosional. Ayah yang sibuk, lelah, atau jarang menyempatkan diri untuk berkomunikasi dan bertanya tentang kabar anak-anaknya juga termasuk dalam kategori ketidakhadiran emosional. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa dampak dari fenomena ini tidak dapat diabaikan. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah berisiko mengalami rasa tidak aman, rendah diri, dan kesulitan dalam membangun relasi sehat di masa depan.

Peran Ayah Sebagai Kunci Harmoni Keluarga

Rahmat Hidayat menekankan bahwa kehadiran ayah yang hangat, penuh kasih, dan aktif sangat krusial dalam menciptakan dinamika keluarga yang harmonis. Komunikasi terbuka dan minimnya konflik dapat menekan risiko fatherless. Menurutnya, ayah bukan hanya penopang ekonomi keluarga, melainkan juga sumber rasa aman dan teladan moral bagi anak-anak.

Oleh karena itu, konseling pranikah dinilai sangat penting. Edukasi peran sebelum menikah dapat membantu calon ayah dan ibu memahami tanggung jawab, seni berkomunikasi, dan cara membangun keintiman emosional, karena pernikahan adalah “dunia baru yang menuntut kesiapan psikologis dan pemahaman peran.”

MK Tolak Gugatan Terkait Kewajiban Gelar S2 bagi Calon Anggota DPR

Asal Usul Hari Ayah Nasional

Hari Ayah Nasional di Indonesia memiliki latar belakang yang unik, berbeda dari Father’s Day Internasional (Minggu ketiga bulan Juni). Gagasan ini diprakarsai oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), komunitas lintas budaya dan agama di Solo.

Pada tahun 2004, saat PPIP merayakan Hari Ibu, muncul pertanyaan dari peserta, “Kapan Hari Ayah dirayakan?” Pertanyaan tersebut memicu deklarasi Hari Ayah Nasional pada tanggal 12 November 2006 di Solo. Tanggal ini juga bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional. Peringatan ini bertujuan untuk memberikan penghargaan yang setara terhadap peran kedua orang tua.


Makna Sejati Hari Ayah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa Hari Ayah adalah momen untuk memperkuat peran ayah sebagai teladan, menjaga keharmonisan keluarga, dan menyadarkan publik bahwa peran ayah sama vitalnya dengan ibu.

Namun, di tengah tantangan fatherless, Hari Ayah Nasional tidak seharusnya hanya menjadi seremoni apresiasi, tetapi sebuah ajakan untuk introspeksi dan perbaikan relasi. Ini adalah momentum bagi para ayah untuk mengevaluasi waktu dan perhatian yang telah diberikan kepada anak-anak, memastikan bahwa pengasuhan tidak sepenuhnya didelegasikan kepada ibu.

Aksi Kecil untuk Anak dan Ayah

Bagi anak-anak, Hari Ayah adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mempererat hubungan, terlepas dari kesibukan yang ada:

Persib Bandung Berjanji Lakukan Evaluasi Total Usai Dijatuhi Sanksi Berat oleh AFC

  • Ucapan Tulus: Mengucapkan “Terima kasih, Ayah” bisa menjadi bentuk apresiasi yang lebih berharga dari hadiah materi.
  • Membangun Komunikasi: Ajak ayah berdiskusi, mendengarkan ceritanya, atau menulis surat kecil yang penuh rasa terima kasih.
  • Waktu Berkualitas: Lakukan kegiatan santai bersama, seperti menonton film atau minum kopi, untuk berbagi cerita.
  • Hadiah Personal: Memberikan hadiah kecil yang relevan dengan hobi ayah sebagai bentuk perhatian.

Pada akhirnya, kehadiran ayah diukur dari kasih sayang dan perhatian yang tertanam di hati anak, bukan sekadar jumlah waktu yang dihabiskan. Peringatan Hari Ayah ini menjadi sangat penting di tengah fenomena fatherless agar setiap anak Indonesia dapat merasakan kembali hangatnya kehadiran ayah dalam makna yang sesungguhnya.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Editor : Robbi Firmansyah (Tim Redaksi Gardupedia.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *