Gardupedia.com — Sikap politik Partai Golongan Karya (Golkar) yang menyatakan diri tidak terbiasa berada di jalur oposisi memicu tanggapan kritis dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PDIP menegaskan bahwa esensi dari berpolitik seharusnya didasari oleh prinsip perjuangan dan komitmen kepada rakyat, bukan semata-mata mencari kenyamanan di dalam kekuasaan.
Wacana ini mengemuka setelah elite Partai Golkar menyampaikan kecenderungan partainya yang senantiasa siap mendukung dan masuk ke dalam koalisi pemerintahan. Golkar menilai rekam jejak serta doktrin partai berbasis kekaryaan membuat mereka lebih optimal ketika berkontribusi langsung di dalam sistem pemerintahan ketimbang berada di luar sebagai penyeimbang.
Juru bicara/elite Partai Golkar menegaskan bahwa tradisi politik partai berlogo pohon beringin tersebut memang difokuskan pada pembangunan dan pengawalan kebijakan pemerintah.
“Partai Golkar memiliki doktrin karya dan kekaryaan. Secara historis, rekam jejak kami memang didesain untuk berkontribusi langsung dalam pemerintahan demi mengawal pembangunan nasional. Kami tidak terbiasa berada di luar pemerintahan atau menjadi oposisi, karena fokus utama kami adalah mengeksekusi program-program nyata bagi masyarakat,” ujar perwakilan Golkar.
Menanggapi pandangan tersebut, PDIP mengingatkan pentingnya peran oposisi dalam menjaga keberlanjutan demokrasi. Menurut PDIP, berada di dalam atau di luar pemerintahan merupakan pilihan politik yang sama-sama terhormat dan memiliki tanggung jawab moral yang besar.
Elite PDIP menekankan bahwa posisi politik tidak boleh didasarkan pada keinginan untuk sekadar mengamankan posisi atau mencari kenyamanan semata.
“Berpolitik itu adalah tentang prinsip, gagasan, dan tanggung jawab moral kepada rakyat, bukan sekadar mencari posisi aman atau ‘cari enak’. Baik berada di dalam koalisi pemerintahan maupun menjadi oposisi, keduanya adalah tugas mulia. Oposisi dibutuhkan agar ada check and balances yang sehat sehingga kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol,” tegas politikus PDIP merespons pernyataan tersebut.
Dinamika silang pendapat ini memperlihatkan perbedaan cara pandang kedua partai besar dalam menyikapi peta politik nasional. Di satu sisi, Golkar konsisten dengan pragmatisme kekaryaan untuk berada di lingkaran pemerintahan, sementara PDIP menekankan pentingnya etika politik, prinsip perjuangan, serta fungsi kontrol terhadap kekuasaan demi menjaga keseimbangan demokrasi.


Comment