Gardupedia.com – Nilai tukar Ringgit Malaysia (MYR) mencatatkan kinerja yang impresif dan terus menguat, bahkan melampaui performa mata uang negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Rupiah Indonesia (IDR). Berdasarkan data pada Kamis (14/11/2025) pukul 15.15 WIB, Rupiah tercatat melemah 0,24 persen terhadap Ringgit, menyentuh level terlemahnya dalam lima tahun terakhir, yakni Rp 4.042,46 per Ringgit. Kinerja Rupiah secara year-to-date (ytd) telah terkoreksi signifikan sebesar 11,65 persen terhadap Ringgit, dari posisi awal tahun 2025 di Rp 3.638,96 per Ringgit. Penguatan tajam Ringgit ini disebabkan oleh fundamental ekonomi Malaysia yang kokoh, sementara Rupiah tertekan oleh kebijakan moneter yang longgar.
Ringgit Ditopang Fundamental Ekonomi yang Tangguh
Para analis menilai bahwa apresiasi Ringgit Malaysia sebagian besar didorong oleh fondasi makroekonomi Malaysia yang kuat dan stabil. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa sejumlah indikator utama di Malaysia menunjukkan tren positif yang mendukung sentimen investor, antara lain:
- Cadangan Devisa yang Kuat: Mencerminkan kemampuan Malaysia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan menghadapi guncangan eksternal.
- Pertumbuhan Ekonomi yang Stabil: Prospek ekonomi Malaysia yang membaik meningkatkan kepercayaan pasar dan menarik investasi.
- Neraca Perdagangan Surplus: Kinerja ekspor yang baik terus memberikan dukungan terhadap mata uang lokal.
- Penanaman Modal Asing (PMA) yang Tinggi: Malaysia menjadi tujuan favorit bagi investor yang mencari stabilitas jangka menengah, didukung oleh stabilitas politik dan reformasi fiskal yang hati-hati.
- Suku Bunga Acuan yang Stabil: Kebijakan moneter yang konsisten dan hati-hati membuat yield (imbal hasil) aset berbasis Ringgit menjadi lebih menarik.
Menurut Lloyd Chan, Strategis dari MUFG Bank Ltd, Ringgit akan terus didukung oleh fundamental makro yang tangguh, pengelolaan fiskal yang hati-hati, dan penyempitan selisih suku bunga dengan Amerika Serikat (AS), yang mendorong pergeseran investasi ke negara berkembang dengan fundamental kuat seperti Malaysia.
Rupiah Terbebani Kebijakan Moneter Longgar
Di sisi lain, pelemahan Rupiah disinyalir terjadi akibat adanya perbedaan langkah kebijakan moneter antara Bank Indonesia (BI) dan Bank Negara Malaysia (BNM). Rupiah berada di bawah tekanan karena BI menerapkan kebijakan moneter yang relatif longgar demi mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
- Pemotongan Suku Bunga: Sepanjang tahun 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) hingga lima kali. Kebijakan ini, meskipun bertujuan untuk memacu pertumbuhan, secara bersamaan menurunkan imbal hasil Rupiah.
- Imbal Hasil Kurang Menarik: Lukman Leong menjelaskan bahwa langkah kebijakan longgar yang diambil BI membuat Rupiah memiliki imbal hasil yang kurang menarik di mata investor global.
Selain itu, untuk menjaga agar pelemahan tidak semakin dalam, BI dilaporkan terus melakukan intervensi dengan menggunakan cadangan devisa. Tindakan intervensi ini menyebabkan posisi cadangan devisa mengalami penurunan.
Perbedaan dalam fundamental ekonomi dan strategi kebijakan moneter menjadi faktor kunci yang menjelaskan mengapa Ringgit Malaysia mampu melesat dan melampaui performa Rupiah Indonesia. Di tengah ketidakpastian global, kepercayaan investor tertuju pada Malaysia berkat reformasi fiskal dan stabilitas politiknya, sementara Rupiah masih bergumul dengan dampak kebijakan suku bunga yang longgar dan tekanan dari pasar global.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !
Editor : Robbi Firmansyah (Tim Redaksi Gardupedia.com)


Comment