Gardupedia.com – Memasuki awal tahun 2026, dinamika perdagangan ritel di berbagai kota besar di Indonesia menunjukkan tren yang bervariasi. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), Surabaya berhasil mengukuhkan posisinya sebagai kota dengan pertumbuhan penjualan ritel paling pesat dibandingkan wilayah lainnya.
Surabaya mencatatkan performa yang sangat impresif dengan angka pertumbuhan yang mencapai digit ganda. Peningkatan aktivitas belanja di Kota Pahlawan ini menjadi motor utama penggerak perdagangan eceran di level daerah pada awal tahun ini.
Selain Surabaya, beberapa kota lain juga menunjukkan performa yang kuat:
- Banjarmasin: Mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 14,7 persen dengan indeks penjualan di angka 115,6.
- Semarang & Purwokerto: Wilayah ini juga menunjukkan geliat ekonomi yang positif dengan pertumbuhan sebesar 10,1 persen secara tahunan (indeks 87,9).
- Jakarta: Ibu kota mencatatkan kenaikan yang stabil di angka 4,9 persen.
- Medan: Mengalami pertumbuhan tipis sebesar 1,3 persen, menunjukkan aktivitas konsumsi yang cenderung terbatas dibandingkan kota-kota di Jawa dan Kalimantan.
Secara umum, kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 sempat mengalami normalisasi atau sedikit kontraksi secara bulanan. Hal ini dianggap wajar karena menurunnya konsumsi masyarakat setelah melewati masa puncak Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Beberapa sektor yang sempat melambat secara bulanan meliputi kelompok peralatan komunikasi dan informasi (turun 7,7%), suku cadang dan aksesori (turun 3,8%), serta makanan, minuman, dan tembakau (turun 2,5%). Namun, secara tahunan, kategori seperti perlengkapan rumah tangga dan subkelompok sandang tetap menunjukkan tren positif.
Bank Indonesia memprediksi optimisme penjualan akan kembali meningkat pada pertengahan tahun, tepatnya sekitar Juli 2026. Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat pada masa libur serta strategi promosi ritel yang biasanya menarik minat beli konsumen.
Dari sisi harga, tekanan inflasi diperkirakan akan melandai pada April 2026. Namun, masyarakat perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga kembali pada Juli 2026, yang dipicu oleh tingginya permintaan kebutuhan memasuki tahun ajaran baru sekolah.
Survei Penjualan Eceran ini sendiri merupakan instrumen rutin Bank Indonesia untuk memantau arah konsumsi domestik, yang dilakukan terhadap 700 responden pengecer di 10 kota besar di seluruh Indonesia.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment