Berita Internasional

Tantangan Gravitasi: Astronot Artemis II Belajar Berjalan Kembali

Foto: via REUTERS/NASA

Gardupedia.com – Misi bersejarah Artemis II tidak hanya mencatatkan rekor jarak tempuh terjauh bagi manusia di luar angkasa, tetapi juga meninggalkan tantangan fisik yang nyata bagi para awaknya. Baru-baru ini, video salah satu astronot NASA, Christina Hammock Koch, menjadi viral setelah menunjukkan dirinya yang kesulitan untuk melangkah tegak setibanya kembali di Bumi.

Meskipun “hanya” menghabiskan waktu sekitar 10 hari dalam perjalanan mengelilingi Bulan, efek gravitasi mikro ternyata cukup untuk membuat tubuh “lupa” cara berfungsi di bawah tarikan gravitasi Bumi.

Menurut penjelasan Koch melalui media sosialnya, manusia memiliki sistem vestibular (organ di telinga bagian dalam) yang telah berevolusi untuk memberi tahu otak tentang posisi dan pergerakan tubuh berdasarkan gravitasi. Di luar angkasa, sistem ini berhenti bekerja secara normal karena tidak ada gaya tarik gravitasi.

Akibatnya, otak mulai beradaptasi dengan cara mengabaikan sinyal-sinyal dari telinga dalam dan beralih sepenuhnya pada indra penglihatan untuk menentukan orientasi posisi. Saat mendarat kembali ke Bumi, terjadilah “benturan” sensorik, Otak masih mengandalkan mata, sementara organ keseimbangan kembali merasakan gravitasi secara tiba-tiba.

Dalam video tersebut, Koch terlihat harus dibantu oleh asisten di kedua sisinya karena sulit menjaga keseimbangan dan berjalan lurus. Para astronot harus menjalani program rehabilitasi neuro-vestibular yang mirip dengan pengobatan untuk pasien vertigo atau gegar otak guna memulihkan keseimbangan mereka.

Marc Marquez: Saya Akan Pensiun Lebih Cepat di Moto GP, Ini Sebabnya.

Selain masalah keseimbangan, berada di luar angkasa dalam jangka waktu yang lebih lama dapat memicu berbagai perubahan serius pada tubuh manusia. Tanpa beban gravitasi, otot tidak perlu bekerja keras untuk menopang tubuh. Hanya dalam dua minggu, massa otot bisa berkurang hingga 20%. Sementara itu, kepadatan tulang bisa menurun sekitar 2% setiap bulannya.

Tekanan cairan di dalam tengkorak dapat menekan bagian belakang bola mata, yang berisiko mengubah bentuk mata dan mengganggu kemampuan penglihatan. Pada awal misi, astronot sering mengalami mual dan pusing luar biasa karena otak harus belajar kembali menginterpretasikan sinyal dari saraf di tengah kondisi melayang.

Kondisi yang dialami tim Artemis II ini menjadi pengingat bagi para ilmuwan bahwa perjalanan luar angkasa, sekecil apa pun durasinya, memiliki risiko kesehatan yang kompleks. Untungnya, setelah sekitar satu minggu proses adaptasi dan rehabilitasi, kondisi Koch dan tiga rekan lainnya dilaporkan mulai membaik dan kembali normal.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Pemerintah Temukan Cadangan Gas Raksasa Baru di Kalimantan Timur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *