Gardupedia.com – Dampak dari tumbangnya 12 tower transmisi milik PT PLN (Persero) di Sumatera Utara akibat cuaca ekstrem pada Kamis (4/6/2026) lalu memicu terjadinya gangguan pasokan listrik jangka panjang. Demi memulihkan kerusakan tersebut, pihak PLN terpaksa memberlakukan kebijakan pemadaman listrik secara bergantian di berbagai kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Utara.
Menurut penjelasan Efron Lumban Gaol selaku Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, selama masa perbaikan sistem ini berlangsung, masyarakat di area terdampak berpotensi mengalami penghentian aliran listrik sebanyak satu sampai dua kali dalam sehari. Ia menambahkan bahwa durasi setiap kali pemadaman diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih tiga jam.
Efron menyatakan bahwa kebijakan penghentian pasokan sementara ini perlu diambil guna mengamankan stabilitas jaringan listrik global dan mengantisipasi terjadinya kerusakan sistemik yang lebih masif.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dialami oleh seluruh pelanggan. Upaya pemadaman bergilir ini terpaksa kami lakukan demi menjaga keseimbangan pasokan daya dan mencegah kerusakan yang lebih luas pada sistem kelistrikan Sumatera Utara,” ujar Efron saat memberikan keterangan resmi.
Ia juga menambahkan bahwa manajemen pembagian daya dilakukan secara cermat sekaligus terus dipantau secara langsung (real-time) guna menekan ketidaknyamanan yang dialami oleh masyarakat. Beberapa area operasional yang masuk ke dalam jadwal pemadaman terjadwal ini mencakup wilayah Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, serta Kabupaten Langkat.
“Tim ahli kami dari berbagai unit saat ini sudah berada di lapangan dan bekerja 24 jam penuh untuk mendirikan tower darurat (emergency tower). Kami berupaya semaksimal mungkin agar proses normalisasi jaringan transmisi utama ini bisa selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya,” tegas Efron.
Memasuki hari ketiga pascabencana, warga di sejumlah daerah mengaku masih kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal karena pemadaman ini. Salah seorang warga Kecamatan Deli Tua, Deli Serdang bernama Bagus (25), membagikan pengalamannya bahwa rumahnya sempat mengalami pemadaman listrik dua kali dengan durasi masing-masing sekitar satu jam. Kondisi lebih sulit dirasakan pada hari berikutnya saat listrik padam selama tiga jam penuh dari pukul 11.30 WIB, yang membuatnya terkendala memperoleh air bersih untuk mandi karena sumur bor di rumahnya mati total.
Keluhan senada juga datang dari M. Azan (34), penduduk kawasan Medan Selayang, yang mengeluhkan listrik di tempat tinggalnya padam sejak pukul 17.00 WIB dan baru kembali menyala menjelang malam pukul 20.30 WIB. Warga sangat berharap proses rekonstruksi tower transmisi ini dapat diselesaikan dengan segera agar kenyamanan istirahat dan kegiatan di rumah tidak terganggu lebih lama lagi.
Sebagai kilas balik, kerusakan masif ini bermula pada Kamis malam (4/6/2026) pukul 20.03 WIB akibat terpaan hujan deras dan angin kencang. Kejadian alam tersebut merusak infrastruktur vital pada jaringan transmisi utama, di antaranya membuat tiga tower roboh (T18, T19, T20) serta dua tower melengkung/bengkok (T17 dan T21) pada lintasan SUTET 275 kV jalur Galang–Simangkuk. Kerusakan serius serupa juga melanda jalur SUTT 150 kV rute Tebing Tinggi–Sei Rotan, di mana enam tower dilaporkan ambruk (T77 sampai T82) dan satu tower (T76) mengalami kondisi struktur yang bengkok.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment