Gardupedia.com – Penurunan tajam harga telur ayam ras dalam sebulan terakhir memaksa para peternak di Kota Batu, Jawa Timur, memutar otak demi mempertahankan usaha mereka. Akibat harga jual yang anjlok jauh di bawah biaya produksi, para peternak kini harus menanggung kerugian besar dan terpaksa menggunakan uang tabungan hasil keuntungan masa lalu agar operasional tetap berjalan.
Pemilik peternakan ASegg Farm, Sotya Hanief, mengungkapkan beratnya situasi yang dihadapi para peternak saat ini. “Kondisi sekarang ini bisa dibilang kami seperti sedang kerja bakti. Tabungan yang kami kumpulkan saat harga telur sedang bagus, sekarang terpaksa dikuras habis hanya untuk menutup biaya operasional sehari-hari karena harga jual berada jauh di bawah modal,” ujar Sotya saat ditemui pada Rabu (1/7/2026).
Menurut Sotya, merosotnya harga telur kali ini dipicu oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. “Daya beli masyarakat saat ini sedang melemah, ditambah lagi ada faktor musiman seperti bulan Suro yang membuat permintaan pasar turun drastis. Di sisi lain, terjadi overproduction karena populasi ayam petelur sekarang ini terlalu padat,” jelasnya.
Situasi peternak kian terjepit karena di tengah merosotnya harga telur, biaya pakan justru mengalami lonjakan yang signifikan. “Komponen pakan itu memakan porsi sampai 70 persen dari total biaya produksi. Sekarang harga jagung sudah naik dari Rp5.500 menjadi Rp7.000 per kilogram, belum lagi harga konsentrat impor yang juga ikut melambung,” tambah Sotya.
Sotya mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu lesunya harga telur di pasaran, antara lain:
- Melemahnya daya beli masyarakat yang membuat serapan pasar menurun.
- Faktor musiman, yakni menyusutnya permintaan selama bulan Suro dalam tradisi penanggalan Jawa.
- Kelebihan pasokan (overproduction), yang dipicu oleh populasi ayam petelur yang saat ini terlalu padat (overpopulation).
Ia juga menambahkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi pasar saat ini.
Kondisi peternak kian terjepit karena biaya pakan yang mengambil porsi hingga 70 persen dari total pengeluaran produksi justru meroket. Sebagai contoh, harga jagung yang awalnya Rp5.500 kini melonjak menjadi Rp7.000 per kilogram. Begitu pula dengan harga konsentrat yang ikut melambung akibat ketergantungan pada bahan baku impor.
Menghadapi situasi yang serba sulit ini, para peternak menaruh harapan besar pada pemulihan situasi ekonomi nasional agar daya beli masyarakat kembali menguat. Selain itu, mereka mendesak pemerintah untuk segera mengintervensi pasar pakan ternak, khususnya menurunkan harga jagung. Bagi mereka, kestabilan harga pakan jauh lebih mendesak agar pendapatan yang diterima setidaknya bisa menutup biaya operasional (HPP) tanpa harus terus-menerus menderita kerugian.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment