Gardupedia.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan agar perluasan kuota Sekolah Rakyat di wilayah ibu kota difokuskan bagi anak-anak dari kelompok masyarakat paling rentan. Prioritas ini ditujukan untuk anak jalanan, pengamen, hingga anak-anak yang mengalami masalah keluarga (broken home).
Rencana ini disampaikan Pramono setelah dirinya mengunjungi langsung Sekolah Rakyat di kawasan Jakarta Selatan. Program pendidikan berasrama (boarding school) ini merupakan inisiatif bentukan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memberi harapan besar bagi masa depan anak-anak kurang mampu.
Dalam kunjungannya tersebut, Pramono mengaku sangat tersentuh hingga meneteskan air mata menyaksikan proses belajar para siswa. Ia terkejut melihat perkembangan anak-anak kurang beruntung tersebut yang kini sudah mahir berkomunikasi dalam bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Arab, hingga Mandarin. Bagi Pramono, perubahan positif pada anak-anak tersebut merupakan wujud nyata dari esensi Marhaenisme, yaitu mengangkat derajat kelompok masyarakat lapisan terbawah melalui jalur pendidikan.
“Saya tadi sempat menangis melihat anak-anak jalanan, anak-anak yang tadinya mengamen, anak broken home, sekarang bisa bicara bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Mandarin. Ini yang saya sebut sebagai esensi Marhaenisme yang sesungguhnya, mengangkat mereka yang paling bawah,” ujar Pramono di lokasi kunjungan.
Guna mendukung program ini, Pramono memutuskan untuk mengajukan tambahan kuota sebanyak 1.000 siswa baru di Jakarta. Dengan adanya penambahan ini, daya tampung Sekolah Rakyat di DKI Jakarta yang semula berkapasitas 1.000 siswa akan melonjak menjadi total 2.000 siswa.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen penuh untuk menyiapkan sarana penunjang berupa fasilitas sekolah berasrama (boarding school). Sementara itu, urusan kurikulum dan sistem pembelajarannya akan diakomodasi dan dibantu langsung oleh pemerintah pusat.
Pramono menegaskan bahwa tambahan kuota ini harus benar-benar menyasar anak-anak yang putus sekolah atau mereka yang sehari-harinya terpaksa mencari nafkah di jalanan, demi memastikan program ini tepat sasaran dan memutus rantai kemiskinan.
“Maka saya sampaikan, Jakarta minta tambah kuota 1.000 lagi, jadi total 2.000 siswa. DKI Jakarta yang akan menyiapkan fasilitas tempatnya, nanti pusat yang bantu sistem dan kurikulumnya. Tapi syarat saya satu, prioritas utamanya harus anak-anak jalanan, anak yang tidak mampu sekolah, dan anak-anak telantar,” tegasnya.
Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !


Comment