Berita Ekonomi

Tekanan Global Belum Surut dan Suku Bunga The Fed, Rupiah Diprediksi Masih Sulit Menguat

Ilustrasi nilai tukar rupiah. (canva.com)

Gardupedia.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat dan berpotensi sulit menguat dalam beberapa waktu ke depan. Kombinasi tekanan eksternal dari arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menahan laju mata uang Garuda.

Sentimen ketidakpastian pasar global yang tinggi membuat para investor cenderung memindahkan modal mereka ke instrumen bernilai aman (safe-haven assets), seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini secara langsung memicu aksi lepas aset di pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Pengamat pasar uang memperkirakan bahwa kebijakan The Fed yang masih mempertahankan sikap hawkish atau mempertahankan suku bunga acuan di tingkat tinggi lebih lama (higher for longer) berpotension menjaga penguatan dolar AS di pasar global.

“Sentimen pasar global saat ini masih belum berpihak pada mata uang negara berkembang. Selama The Fed belum memberikan sinyal kuat terkait pemangkasan suku bunga acuan, dolar AS akan terus berada dalam posisi perkasa,” ujar analis pasar uang dalam keterangannya.

Selain faktor suku bunga, eskalasi konflik di Timur Tengah turut memperkeruh kondisi perekonomian global. Memanasnya situasi geopolitik tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak mentah internasional, yang berujung pada potensi lonjakan inflasi global.

107 Atlet Bertarung di Kejurnas Track Cycling, ICF Mulai Jaring Skuad SEA Games 2027

“Eskalasi di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga komoditas ekspor dan energi. Risiko imported inflation atau inflasi impor menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi oleh domestik, sehingga tekanan terhadap rupiah menjadi makin berlipat,” tambahnya.

Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) terus memantau dinamika pasar keuangan global dan berkomitmen melakukan langkah-langkah stabilitas nilai tukar. BI diproyeksikan akan tetap mengoptimalkan strategi triple intervention baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meminimalkan volatilitas nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi semakin dalam.

Dengan berbagai tantangan eksternal tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak melandai dan cenderung berada dalam rentang konsolidasi terbatas dengan kecenderungan melemah, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi global dan penurunan ketegangan geopolitik.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Cegah Jeratan OTT KPK, PAN Dorong Penguatan Pelatihan dan Pembekalan Calon Kepala Daerah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *