Berita Regional

Gunung Ile Lewotolok Erupsi 1.873 Kali dalam 5 Hari, Abu Vulkanik Capai 700 Meter

Gunung Ile Lewotolok meletus Minggu (9/8/2026) (Dok. PGA Ile Lewotolok)

Gardupedia.com — Aktivitas vulkanik Gunung Api Ile Lewotolok yang berada di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatatkan lonjakan signifikan. Sepanjang lima hari pengamatan, yakni sejak Selasa, 1 September 2026 hingga Sabtu, 5 September 2026, gunung api ini terekam telah meletus sebanyak 1.873 kali.

Pengamat Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, mengonfirmasi bahwa selama kurun waktu pengamatan lima hari tersebut, ketinggian kolom abu yang dihasilkan letusan teramati berada pada kisaran 200 hingga 700 meter di atas puncak gunung.

“Kolom abu letusan berwarna putih, kelabu hingga hitam,” kata Stanislaus Arakian saat memberikan keterangan pada Minggu, 7 September 2026, sebagaimana dikutip dari Antara.

Selain letusan utama, petugas pos pengamatan juga memantau adanya material guguran lava yang meluncur sejauh 700 meter dari puncak gunung menuju ke arah tenggara.

Selama rentang waktu pengamatan 1–5 September 2026, kondisi visual gunung dapat terlihat jelas hingga terselimuti kabut pada level 0–II. Dari kawah utama, keluar asap berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal yang membumbung setinggi 20 sampai 500 meter.

Kalahkan Australia 2-0, Timnas Indonesia U-20 Segel Tiket Piala Asia U-20 2027

Kondisi cuaca di area sekitar gunung terpantau cerah hingga berawan. Angin berembus dengan kecepatan lemah hingga kencang mengarah ke barat dan barat laut, sementara suhu udara terukur antara 23 hingga 32 derajat Celsius.

Selama periode lima hari tersebut, alat seismograf mencatat berbagai rincian aktivitas kegempaan sebagai berikut:

  • Gempa Letusan/Erupsi: 1.873 kali kejadian.
  • Gempa Hembusan: 663 kali kejadian (amplitudo 3,3–40 mm, durasi 17–85 detik).
  • Tremor Non-Harmonik: 221 kali kejadian (amplitudo 3,3–40 mm, durasi 77–503 detik).
  • Gempa Harmonik: 14 kali kejadian (amplitudo 5,5–40 mm, durasi 80–209 detik).
  • Gempa Vulkanik Dalam: 6 kali kejadian (amplitudo 6,6–40 mm, S-P 0,5–2,39 detik, durasi 8–12 detik).
  • Gempa Hybrid/Fase Banyak: 6 kali kejadian (amplitudo 6,6–22,1 mm, S-P 1,1–2,5 detik, durasi 12–21 detik).
  • Gempa Vulkanik Dangkal: 4 kali kejadian (amplitudo 8,8–40 mm, durasi 8–14 detik).
  • Gempa Tektonik Jauh: 3 kali kejadian (amplitudo 16,6–33,2 mm, S-P 17–28 detik, durasi 48–86 detik).
  • Gempa Guguran: 1 kali kejadian (amplitudo 40 mm, durasi 85 detik).

Terkait dengan rekaman video letusan Gunung Ile Lewotolok yang beredar luas di media sosial pada Minggu, 7 September 2026 pukul 06.41 WITA yang menampilkan semburan abu setinggi 600 meter Stanislaus Arakian memberikan klarifikasi terkait persepsi visual dalam video tersebut.

“Yang sedang beredar di sosmed itu diambil di kawah oleh guide. Makanya kelihatan tinggi,” ujar Stanislaus.

Aktivitas erupsi Gunung Ile Lewotolok pun dikabarkan masih terus berlanjut. Pada Minggu, 7 September 2026 pukul 21.35 WITA, terjadi letusan susulan dengan kolom abu kelabu tebal bertekanan tinggi mencapai sekitar 500 meter di atas puncak (atau setara 1.923 meter di atas permukaan laut). Sebaran abu tersebut teramati bergerak ke arah selatan dan barat. Erupsi ini tercatat pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi letusan berlangsung selama kurang lebih 32 detik.

Polri Terjunkan 322 Personel Satgas ke Sumatera dan Kalimantan untuk Edukasi dan Evaluasi Karhutla

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *