politic

Kisah di Balik Daya Tarik Usher di GIIAS 2025: Dibayar Cukup Baik, Bukan Hanya Menjual Wajah

gardupedia.com.CO.ID, JAKARTA — Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) merupakan pameran mobil terbesar produsen otomotif di Tanah Air. Selain kemajuan teknologi mobil terbaru yang menarik perhatian pengunjung pameran, para gadis penjaga mobil juga menjadi daya tarik tersendiri.

Di setiap stan, selalu ada gadis-gadis yang menarik yang diharapkan mampu menarik perhatian pengunjung. Usher, sebutan untuk para gadis penjaga stan otomotif ini, biasanya sigap menyapa pengunjung yang datang. Minimal dengan memberikan senyuman. Mereka kemudian bisa memberikan penjelasan singkat kepada pengunjung yang bertanya.

Saat para pengunjung mulai tertarik, giliran sales otomotif mengambil alih. Karena sales ini lebih memahami secara detail keunggulan mobil, fasilitas, maupun harga jual, mulai dari uang muka hingga cicilannya. Para usher adalah penerima pertama,penjaga gerbangbagi pengunjung yang datang.

Usher dipandang memiliki postur tinggi, kurus, dan menarik. Pakaian yang dikenakannya juga harus seksi. Padahal, tidak selalu seperti itu. Ciri-ciri tersebut bukanlah aturan mutlak. Semua tergantung pada filosofi yang diusung oleh merek yang menggunakan jasa mereka.

Lusi, bukan nama asli, contohnya. Ia bekerja untuk salah satu merek asal Tiongkok. Jika dibandingkan dengan para usher dari merek lain, atau bahkan rekan kerjanya sendiri, Lusi bukan yang paling “bercahaya”.

MK Tolak Gugatan Terkait Kewajiban Gelar S2 bagi Calon Anggota DPR

Namun, wajahnya ramah. Pakaiannya rapi, mirip dengan perempuan-perempuan kantoran yang sering terlihat di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman atau SCBD, Jakarta. Senyumnya yang tak pernah berhenti dari bibirnya menjadi daya tariknya. Profilnya tampaknya memenuhi syarat dari merek Tiongkok tersebut.

Bukan sekadar cantik

Masalah kecantikan bukanlah hal yang utama yang diizinkan oleh Dudy Sulistyo. Pria yang sudah 22 tahun berkecimpung di bidang jasa penyediaan usher ini menyebutkan ada kriteria lain yang dibutuhkan. Sebagai koordinator, ia menetapkan seluruh talent-nya harus memiliki tinggi badan minimal 168 cm. Namun, Dudy juga memiliki penilaian lain bagi mereka yang tidak sekadar mempertimbangkan paras.

“Saya akan menyesuaikan tergantung brand dan mobil yang akan dijaga. Misalnya untuk mobil Citroen yang elegan dan sporty, kita juga harus mencari usher yang sporty dan muda. Meskipun ada yang lebih tua dan lebih cantik, tetap lebih cocok yang masih muda,” kata Dudy kepadagardupedia.com.co.id, Senin (28/7/2025).

Persib Bandung Berjanji Lakukan Evaluasi Total Usai Dijatuhi Sanksi Berat oleh AFC

Usher di GIIAS 2025. – (gardupedia.com/Thoudy Badai)

 

Menurut Dudy, kecantikan adalah modal untuk menjadi usher. Namun, katanya, tetap harus dilihat sisi intelektualitasnya.

“Senyum juga merupakan modal bagi semua usher yang pernah mengikuti acara. Kami juga selalu mengingatkan mereka, terlebih jika sudah H+4 acara, mereka mulai terlihat lelah dan lupa untuk tersenyum. Hal ini biasanya sangat terlihat pada usher yang bekerja dalam shift yang panjang,” katanya.

gardupedia.comMenanyakan kriteria usher yang digunakan oleh Jetour. Perwakilan PR dari merek Tiongkok ini memberikan jawaban tertulis bahwa Jetour menetapkan kriteria penampilan menarik dan rapi serta tinggi proporsional untuk usher mereka. Kemudian, mereka harus ramah dan komunikatif, mampu menjelaskan informasi dasar produk. Selain itu, usher harus disiplin dan profesional.

Menteri UMKM Larang Keras E-Commerce Terkait Kenaikan Biaya Layanan dan Ongkir

Disiplin dan profesionalisme menjadi poin penting yang diakui Dudy. Ia mengatakan, sejakpemindaianAwalnya, calon usher jarang ada yang terlambat, apalagi sampai tidak hadir. Jika terjadi usher tidak datang saat acara, Dudy menegaskan akan memberikan teguran secara lisan. Jika masih melakukan hal tersebut, maka usher langsung dikeluarkan.

” Sampai saat ini tidak pernah ada kejadian sampai dikeluarkansaja,” katanya.

Venolia, salah satu usher yang bertugas di GIIAS 2025, juga menyatakan bahwa pentingnya memahami produk yang diawasi serta menjunjung tinggi profesionalitas.

“Kalau soal pengetahuan produk, kami di-training dulu sekali. Kemudian berdiri selama 12 jam, pegal juga sih. Juga kami harus tersenyum terus, lama-lama mulut berkedut juga. Tapi itu kan tuntutan pekerjaan,” katanya diiringi tawa.

Venolia debut di GIIAS. Sebelumnya, ia biasanya bertugas sebagai usher dalam acara-acara kecil seperti pernikahan. Itu sebabnya ia sangat antusias ikut dalam ajang sebesar GIIAS.

Ada waktu istirahat untuk makan atau ke kamar mandi. Biasanya, kata Venolia, ia berkoordinasi dengan sesama usher yang menjadi rekan kerjanya.

“Katakan saja kepada teman. Ada waktunya (istirahat) juga,” katanya.

Dudy Sulistyo (baju hitam) adalah penyedia usher untuk acara-acara otomotif. Dudi menyediakan usher untuk merek Citroen dan BAIC di GIIAS 2025. – (dokpri)

 

Uang besar,

Dudy memulai bisnis penyediaan usher sejak 2003 saat pameran otomotif terbesar ini masih digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan Jakarta. Jauh-jauh hari sebelum pameran dimulai, ia sudah memiliki talent usher yang siap menggunakan jasanya.

“Pertama kali saya mencoba ini pada tahun 2003, saya ingat saat itu hanya menyiapkan delapan orang pemandu untuk merek Renault. Ini lumayan. Tahun berikutnya hanya empat pemandu saya yang digunakan oleh merek Audi,” kata pria berkepala plontos berusia 54 tahun ini.

Untuk GIIAS 2025 ini, dia mengaku menyediakan 14 usher untuk dua merek, delapan di Citroen dan empat bertugas di stand mobil China BAIC. Jumlah usher yang sedikit, menurutnya, tidak lepas dari faktor ekonomi yang secara umum mengalami perlambatan.

Selama menjadi koordinator, Dudy mengaku mendapatkan keuntungan besar pada tahun 2017. Saat itu, dia menerima permintaan hingga 190 usher. Ini adalah jumlah permintaan usher tertinggi yang pernah dia terima.

“Ada klien H-10 yang meminta disiapkan 40 usher. Ada juga Isuzu yang meminta 30 Usher. Memang mendapatkannya besar, tapi saya sempat masuk rumah sakit karena tertular tipes akibat kelelahan,” kenang Dudy.

Untuk usia usaha, Dudy menetapkan paling muda 18-19 tahun dan paling tua 30 tahun. Ia mengaku lebih suka bekerja sama dengan talent yang berusia 30 tahun.

“Biasanya mereka bekerja lebih profesional. Jika anak-anak sekarang, usia 20-an memang mereka cantik dan cerdas, tapi terkadang generasi Z ini banyak yang sulit diberi nasihat,” katanya.

Biasanya Dudy terlebih dahulu memilih para usher sebelum menawarkannya ke klien. Misalnya, ada merek yang meminta usher, ia akan mencari terlebih dahulu yang menurutnya sesuai dengan karakter kendaraan klien tersebut. Tidak semua yang ditawarkan langsung diterima. Menurutnya, biasanya butuh dua hingga tiga kali penawaran sebelum semuanya disetujui.

“Kita seleksi sendiri dulu untuk memudahkan klien. Pernah ada klien yang mencoba mencari sendiri melalui wawancara, ada 200-an yang mendaftar, yang dibutuhkan hanya 10. Ternyata dari 200 calon usher tersebut hanya dua orang yang lolos. Ini justru mempersulit klien itu sendiri, waktu terbuang,” katanya.

   

Para usher ini menerima gaji yang berbeda, tergantung pada jam kerja dan merek yang menggunakannya. “Pastinya di atas Rp 1 juta per hari untuk satu shift, jika shiftnya panjang cukup dikalikan dua saja. Lumayan kan hasilnya? Kalikan saja dengan lama pameran,” katanya.

Dudy mengakui menerima pendapatan dari manajemen fee, terkadang juga memotong dari pembayaran usher. “Biasanya saya mendapatkan dari manajemen fee sebesar 10 persen. Terkadang juga memotong dari usher, tetapi dengan jumlah yang wajar, yang dapat diterima oleh usher.”

Dari banyaknya pameran otomotif yang ada di tanah air, GIIAS menjadi ajang yang paling dinanti tidak hanya oleh peserta pameran dan para penggemar otomotif tetapi juga oleh para usher. “GIIAS bisa dikatakan sebagai puncak dari pameran otomotif yang paling dinanti oleh para usher sekali dalam setahun.”

Soal penghasilan yang lumayan sebagai usher otomotif ini juga diakui oleh Venolia. Apalagi untukpemulaTampaknya. Wanita yang mengaku baru lulus SMA ini mengaku telah mencari uang sendiri sejak masih duduk di SMA.

“Untuk uang jajan karena tidak enak merepotkan orang tua. Terlebih saya anak paling tua dari tiga bersaudara, semuanya perempuan,” katanya.

Meskipun harus berdiri dan tersenyum selama berjam-jam, Venolia mengaku senang karena mendapatkan pengalaman baru. Ia juga bertemu banyak orang. “Seru sih,” katanya. Yang terpenting, ia mendapatkan bayaran yang bagus untuk memenuhi kebutuhannya.

Meski mendapat pemasukan besar, mengurus usher tidak mudah. Dudy, misalnya, harus menyiapkan rumah sewa untuk 14 usher-nya untuk GIIAS 2025. Tempatnya di rumah cluster yang jaraknya 2-3 km dari ICE.

“Harga sewa rumah 1,5 juta hingga 1,6 juta per hari, ada 3 kamar tidur. Semua saya tanggung, nanti masuk ke anggaran yang diajukan ke klien,” katanya.

Ia juga menyiapkan rias wajah dan rambut, biasanya di TKP, dua jam atau satu jam sebelum pintu pameran dibuka. Hal lainnya, jika peresmian acara mengundang orang penting, ia harus menyiapkan pemandu tamu sejak subuh.

“Ini sudah menjadi bagian dari komitmen bahwa kita harus bangun lebih awal. Dari sisi pembayaran pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semuanya merupakan bagian dari tanggung jawab mereka sebagai usher,” kata Dudy.

Selama puluhan tahun menjadi koordinator, Dudy mengaku lebih banyak sukanya dibandingkan dukanya. “Yang tidak enak paling lelah atau sakit. Selain itu, banyak sukanya,” kata Dudy menutup percakapan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *