Berita Inspirasi

Menjejak Tradisi, Menemukan Kebijaksanaan di Desa Wisata Pentingsari

Desa Wisata Pentingsari: Kembangkan Budaya dan Perekonomian Lokal

Fitri Andono Warih terlihat sibuk melipat kain batik. Batik-batik hasil karyanya diberi label Batik Badong. Kain-kain dengan berbagai corak dan warna ini adalah salah satu hasil dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta. Selain menjual batik, Fitri juga menawarkan jasa belajar membatik kepada wisatawan yang berkunjung ke desa ini.

Ia mengatakan bahwa dalam sebulan, omset yang ia peroleh bisa mencapai 10 hingga 15 kali lipat lebih besar dibandingkan sebelum Pentingsari bertransformasi menjadi desa wisata. “Harga workshop Rp 45 ribu per orang, kelasnya sekitar 3-4 jam membatik,” ujar perempuan yang kerap disapa Andono tersebut.

Desa binaan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ini terletak sekitar 12 kilometer dari puncak Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum menjadi desa wisata, masyarakat Pentingsari umumnya bekerja sebagai petani. Kini, desa ini telah berubah menjadi pelaku industri wisata berbasis budaya dan edukasi.

Ciptaningtyas, Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, menjelaskan bahwa Pentingsari bukan termasuk desa dengan daya tarik wisata (DTW) yang khas. Meski demikian, masyarakat ingin mengelola desa menjadi sebuah destinasi wisata dengan memanfaatkan keramahan dan keahlian lokal.

Perempuan yang biasa disapa Ning itu bercerita bahwa pengelola desa hanya mengelola dusun kecil. Setiap sudut desa dijadikan destinasi wisata agar semua pengunjung merasakan sensasi yang berbeda. “Pentingsari bukan desa dengan daya tarik wisata khas. Tapi kami percaya, keramahan dan kearifan lokal bisa menjadi daya pikat tersendiri,” katanya.

Marc Marquez: Saya Akan Pensiun Lebih Cepat di Moto GP, Ini Sebabnya.

Sejak 2008, warga mulai membenahi desanya dengan berbagai cara agar setiap sudut desa menjadi destinasi. Bukan melalui pembangunan besar-besaran, melainkan dengan memanfaatkan aktivitas harian warga sebagai atraksi. Mulai dari belajar bertani kopi, membatik hingga belajar memainkan alat musik tradisional.

“Desa kami tidak menjual tiket, kami menjual paket kegiatan. Pengalaman adalah produk utama kami,” ujarnya. Pentingsari menawarkan berbagai paket wisata, mulai dari dua hari satu malam hingga tujuh hari enam malam. Dalam kurun waktu itu, wisatawan dapat belajar tentang pertanian, budaya, hingga ikut mengolah kopi dari kebun ke cangkir.

Desa ini kini dihuni sekitar 475 jiwa yang tersebar di empat RT dan dua RW. Hingga 2024, terdapat lebih dari 80 homestay dengan kapasitas menampung hingga 500 wisatawan. Dengan model pariwisata berbasis komunitas seperti ini, jumlah kunjungan terus meningkat.

“Dulu, kunjungan kami rata-rata 20 ribu orang per tahun dengan omzet sekitar Rp 1,3 miliar. Tapi dua tahun terakhir meroket drastis. Untuk 2024, jumlah wisatawan mencapai 29 ribu orang dan omzet tercatat sekitar Rp 4,8 miliar,” ujar Ning. Capaian tersebut turut mengantar Pentingsari meraih berbagai penghargaan, antara lain ASEAN Tourism Award 2023 untuk kategori pemberdayaan masyarakat, ASEAN Sustainable Tourism Award 2022, dan Desa Wisata Mandiri Inspiratif ADWI 2021.

Menurut Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono, keterlibatan BCA dalam membina Pentingsari merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui pendekatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), program Desa Wisata menjadi medium pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Pemerintah Temukan Cadangan Gas Raksasa Baru di Kalimantan Timur

Imbas Larangan Study Tour pada Kunjungan Wisatawan

Laju pertumbuhan kunjungan ke Pentingsari sempat tersendat pada Mei 2024. Ning menyebut, sekitar 1.200 wisatawan dari kalangan pelajar membatalkan kunjungan mereka ke Pentingsari. Ini imbas dari surat edaran larangan study tour yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

“Kunjungan turun hingga 30% pada bulan Mei. Banyak sekolah yang batal datang,” ujarnya. Padahal, pelajar sekolah merupakan pasar utama dari paket edukasi yang ditawarkan Pentingsari. Selaras dengan program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang diusung Kemendikbud Ristek, desa ini dirancang sebagai ruang belajar alternatif bagi siswa, bukan hanya di atas kertas, tetapi langsung dari kehidupan.

“Anak-anak jadi tahu dari mana asal nasi yang mereka makan. Mereka turun ke sawah, kotor-kotoran, dan merasakan betapa besar usaha petani,” kata dia. Larangan study tour tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra yang dikeluarkan pada 2 Mei 2024. Dalam surat itu, sekolah diminta mengganti kegiatan wisata dengan program berbasis inovasi seperti pengelolaan sampah, pertanian organik, dan pelatihan kewirausahaan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *