Berita

Apa Itu ARB dan ARA? Ini Cara Kerja dan Tujuannya

Pengertian ARB dan ARA dalam Saham

Bagi para investor yang aktif bertransaksi saham, istilah Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) mungkin sudah sangat familiar. Kedua mekanisme ini sering muncul ketika harga saham mengalami kenaikan atau penurunan yang drastis dalam waktu singkat. Meskipun istilah ini terdengar teknis, pemahaman tentang ARA dan ARB sangat penting, terutama bagi investor pemula yang masih belajar mengenai dinamika pasar modal.

ARA dan ARB merupakan sistem pengamanan yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Tujuan utama dari kedua mekanisme ini adalah untuk membatasi lonjakan atau penurunan harga saham yang terlalu tajam dalam satu hari perdagangan. Dengan adanya ARA dan ARB, sistem bursa akan secara otomatis menolak pesanan jual atau beli yang berada di luar batas perubahan harga yang telah ditetapkan, sehingga transaksi tersebut tidak bisa dilakukan. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar dan menghindari volatilitas harga yang ekstrem dalam waktu singkat, yang dapat merugikan investor.

Mekanisme Kerja ARA dan ARB

ARB terjadi saat harga saham turun drastis hingga mencapai batas minimum harian. Pada kondisi ini, pesanan jual di bawah batas tersebut akan langsung ditolak oleh sistem bursa. Sebaliknya, ARA terjadi ketika harga saham mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai batas maksimum harian. Ketika hal ini terjadi, sistem perdagangan akan otomatis menolak pesanan beli yang melebihi batas tersebut.

Beberapa perubahan telah dilakukan oleh BEI terkait batasan ARB dan ARA. Sebelumnya, batas ARB bervariasi tergantung pada harga saham, yaitu 35 persen untuk saham berharga rendah, 25 persen untuk saham menengah, dan 20 persen untuk saham berharga tinggi. Namun, sejak penyesuaian terbaru, batas ARB diseragamkan menjadi 15 persen untuk seluruh rentang harga saham, baik untuk saham dengan harga rendah maupun tinggi.

Adapun pembagian batasan ARB dan ARA berdasarkan kategori harga saham adalah sebagai berikut:
Bawah (Rp 50 – Rp 200)
Menengah (Rp 200 – Rp 5.000)
Tinggi (di atas Rp 5.000)

Menkes Tegas Coret Orang Kaya yang Masih Jadi Peserta PBI BPJS!

Kebijakan ini berlaku bagi berbagai jenis efek yang tercatat di BEI, termasuk saham di papan utama, papan pengembangan, papan ekonomi baru, Exchange-Traded Fund (ETF), serta Dana Investasi Real Estat (DIRE).

Tujuan Penyesuaian Batasan ARB dan ARA

Tujuan utama dari penyesuaian batasan ARB dan ARA adalah menjaga stabilitas dan likuiditas pasar. Kebijakan ini didasarkan pada dua Surat Keputusan Direksi BEI, yaitu:
– Nomor Kep-00002/BEI/04-2025 tentang Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.
– Nomor Kep-00003/BEI/04-2025 tentang Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari revisi atas Surat Keputusan Direksi sebelumnya, seperti Kep-00196/BEI/12-2024 dan Kep-00024/BEI/03-2020. Dengan penyesuaian ini, BEI berharap perdagangan efek dapat berjalan secara teratur, wajar, dan efisien. Selain itu, ARA dan ARB juga diharapkan dapat mengurangi volatilitas harga saham yang ekstrem dalam waktu singkat, serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para investor.

Kesimpulan

Dengan pemahaman yang baik tentang ARA dan ARB, investor dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan investasi. Mekanisme ini tidak hanya membantu menjaga stabilitas pasar, tetapi juga melindungi investor dari risiko kerugian akibat fluktuasi harga yang terlalu cepat. Bagi investor pemula, penting untuk mempelajari cara kerja ARA dan ARB agar dapat menghadapi situasi pasar yang volatil dengan lebih siap dan tenang.

Cedera Kronis Paksa Viktor Axelsen Pensiun Dini di Dunia Bulutangkis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *