Berita NASIONAL Pemerintahan

Cegah Risiko Keracunan, Kepala BGN Minta Guru Edukasi Siswa Tak Bawa Pulang MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) didampingi Wakil Kepala BGN Trenggono (kiri) dan Agustina Arumsari (kanan) memberikan keterangan pers terkait penutupan dapur SPPG bermasalah di Jakarta, Senin (27/7/2026). ( ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Gardupedia.com — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, meminta para guru untuk aktif memberikan edukasi kepada para siswa agar tidak membawa pulang hidangan Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke rumah. Langkah ini dinilai sangat krusial guna mencegah timbulnya risiko keracunan akibat penurunan kualitas makanan.

Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, pada Kamis (6/8/2026). Ia menekankan bahwa porsi MBG yang didistribusikan harus langsung dihabiskan oleh siswa di lingkungan sekolah.

“Selain itu, juga memberikan edukasi barang ini (MBG) jangan kamu bawa pulang. Atau maksud saya ini penting untuk tidak dibawa pulang,” ujar Sudaryono pada Kamis (6/8/2026).

Sudaryono menjelaskan bahwa seluruh hidangan dalam program MBG diolah secara alami tanpa menggunakan bahan pengawet. Karakteristik ini membuat makanan menjadi sangat rentan rusak apabila ditunda waktu konsumsinya, terlebih jika berada di daerah bersuhu udara panas yang dapat mempercepat perkembangbiakan bakteri.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BGN telah menjalin koordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Kerja sama ini bertujuan agar jajaran guru di setiap sekolah turut mendampingi serta mengedukasi peserta didik mengenai aturan konsumsi MBG.

John Herdman Prediksi Singapura Bakal Main Defensif Hadapi Skuat Indonesia

Tak hanya mengimbau, Sudaryono juga mengusulkan agar para guru ikut menyantap sajian MBG bersama siswa di sekolah. Kehadiran guru di meja makan dinilai dapat menjadi sarana edukasi pembiasaan pola hidup bersih dan tertib bagi anak-anak.

“Guru kemudian ikut makan bareng dengan siswanya untuk satu, fungsi edukasi. Tata kramanya, cuci tangannya, ngantrenya, kemudian nyusun omprengnya itu kan bagus,” tutur Sudaryono.

Peringatan tegas mengenai larangan membawa pulang makanan ini mencuat usai munculnya sejumlah kasus dugaan keracunan, salah satunya yang terjadi di Jayapura, Papua.

Berdasarkan analisis awal BGN, insiden tersebut diduga terjadi karena makanan dimasak terlalu pagi sehingga kualitasnya sudah menurun saat tiba di sekolah. Namun selain faktor waktu memasak, BGN juga menemukan fakta lain dari hasil validasi laporan di lapangan, di mana ada siswa yang sengaja membawa pulang MBG tersebut.

“Beberapa laporan yang kami terima dan masih kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi, dia harusnya kan disantap misalnya jam 11.00 WIB, dia dibawa pulang dimakan jam 15.00 WIB jam 16.00 WIB, jadi sudah rusak,” ungkap Sudaryono.

Prabowo Siapkan Investasi Masif di Sektor Pendidikan dan Riset

Akibat penundaan tersebut, kondisi makanan telah membusuk dan beracun. Bahkan, beberapa anggota keluarga di rumah yang ikut mengonsumsi sajian tersebut turut mengalami gejala keracunan.

Atas dasar kejadian tersebut, BGN mengimbau seluruh pihak sekolah dan orang tua murid untuk memastikan siswa menghabiskan jatah MBG langsung di sekolah pada jam makan yang ditentukan, guna menjamin keamanan serta manfaat gizi yang diterima anak secara optimal.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *