Berita Regional

Dampak Kemarau Panjang, Petani di Cirebon Beralih Tanam Palawija demi Bertahan Hidup

Beberapa petani di Desa Sinarancang Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Jawa Barat mulai terdampak kekeringan pada Selasa (28/7/2026) pagi. Sebagian mereka meninggalkan sawahnya, dan sebagian lain mulai beralih ke tanaman palawija yang relatif bertahan dalam kondisii minim perairan.(Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON)

Gardupedia.com — Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memaksa para petani lokal memutar otak demi mempertahankan mata pencaharian mereka. Akibat krisis air irigasi yang menghentikan budi daya padi, sejumlah petani di Kecamatan Mundu memilih beralih menanam komoditas palawija.

Petani di Desa Sinarancang, Subandi, mengungkapkan bahwa lahan pertanian yang digarapnya telah mengalami krisis air selama kurun waktu dua bulan terakhir. Mampetnya aliran irigasi tersebut merupakan dampak dari kekeringan yang terjadi di daerah hulu.

“Sudah dua bulan sawah yang biasa kami garap tak mendapatkan aliran air irigasi. Ini terjadi karena kekeringan sudah melanda wilayah hulu di Kabupaten Kuningan dan Majalengka,” ujar Subandi saat ditemui di lahannya, Selasa (28/7/2026).

Menghadapi situasi sulit tersebut, Subandi bersama para petani lainnya sepakat mengambil langkah taktis. Daripada membiarkan lahan yang mereka sewa mangkrak dan tidak menghasilkan, mereka beralih ke tanaman palawija yang jauh lebih tahan terhadap keterbatasan air.

“Sekarang musim kemarau, jadi kami punya inisiatif sendiri bagaimana caranya bertahan hidup. Tadinya tanam padi, tetapi sekarang beralih ke palawija karena padi sulit mendapatkan air,” kata Subandi.

107 Atlet Bertarung di Kejurnas Track Cycling, ICF Mulai Jaring Skuad SEA Games 2027

Saat ini, Subandi dan kelompok petaninya telah mengolah lahan seluas setengah hektare untuk ditanami cabai. Tanaman tersebut mulai menunjukkan pertumbuhan positif dan diproyeksikan dapat dipanen dalam beberapa bulan ke depan.

“Untuk sekarang, kami baru menggarap lahan sekitar setengah hektare yang ditanami cabai. Tapi secara bertahap, kami menargetkan pemanfaatan lahan hingga mencapai dua hektare agar area yang selama ini menganggur tetap produktif,” tuturnya.

Subandi menambahkan, cabai bukanlah satu-satunya komoditas yang akan mereka kembangkan selama musim kering berlangsung.

“Selain cabai, kami juga berencana menanam bawang merah, terong, dan berbagai komoditas palawija lainnya sebagai alternatif selama musim kemarau,” tambahnya.

Menurut Subandi, beralih ke komoditas palawija sebenarnya bukan hal baru bagi komunitas petani di wilayahnya. Kondisi geografis kawasan perbukitan yang minim pasokan air menjadikan pola tanam berganti ini sebagai strategi rutin saban musim kemarau tiba.

Cegah Jeratan OTT KPK, PAN Dorong Penguatan Pelatihan dan Pembekalan Calon Kepala Daerah

“Menanam palawija ini bukan hal baru bagi kami. Pola tanam seperti ini memang selalu dilakukan setiap musim kemarau karena paling sesuai dengan kondisi lahan pegunungan yang memiliki keterbatasan sumber air,” tutup Subandi.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *