Berita Regional

Eksploitasi Air Tanah, Pemicu Utama Amblesnya Permukaan Tanah di Jakarta

Tugu penurunan tanah di Kota Tua yang menyebutkan Jakarta terus mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) yang signifikan, terutama di wilayah pesisir utara. (KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN )

Gardupedia.com – Masalah penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta kembali menjadi sorotan tajam. Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, aktivitas pengambilan air tanah secara besar-besaran diidentifikasi sebagai faktor tunggal paling dominan yang menyebabkan daratan ibu kota terus merosot.

Penelitian menunjukkan bahwa laju penurunan tanah di Jakarta sangat bervariasi namun berada pada level yang mengancam. Di wilayah Jakarta Utara, rata-rata penurunan mencapai 3,5 cm per tahun. Namun, di titik-titik kritis seperti Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, kondisinya jauh lebih ekstrem dengan kecepatan penurunan hingga 28 cm setiap tahunnya.

Bahkan, catatan sejarah yang terpampang pada tugu informasi di Jakarta mengungkapkan fakta mengejutkan: sejak pengamatan dimulai pada tahun 1974 hingga 2020, beberapa titik di Jakarta telah mengalami penurunan kedalaman hingga 4,5 meter.

Dr. Yus, seorang pakar yang mengamati fenomena ini, menegaskan bahwa penyebab utama amblesnya Jakarta bukanlah beban dari gedung-gedung pencakar langit, melainkan penyedotan air tanah dalam. Penggunaan pompa berkekuatan besar untuk mengambil air di kedalaman lebih dari 100 meter menciptakan rongga di bawah tanah yang memicu pemadatan lapisan tanah.

Hasil studi dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pun memperkuat hal ini, di mana tidak ditemukan korelasi langsung antara berat bangunan di permukaan dengan penurunan tanah dalam skala luas di kota tersebut.

Pakar Mikrobiologi Ubaya Ungkap Alasan Hantavirus dari Varian Andes Sangat Berbahaya

Penurunan permukaan tanah ini memperburuk risiko bencana banjir hingga lebih dari 40 persen. Kondisi ini menciptakan fenomena “banjir gabungan” (compound flooding). Ketika tanah makin rendah, sistem drainase tidak lagi mampu mengalirkan air ke laut secara alami karena posisi laut yang lebih tinggi. Akibatnya, air hujan terperangkap, menyebabkan genangan yang lebih dalam dan bertahan lebih lama.

Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat tiga kejadian banjir besar (Maret, Juli, dan Oktober) yang diperparah oleh kondisi geologis ini, selain pengaruh perubahan iklim yang meningkatkan intensitas hujan ekstrem.

Para ahli memperingatkan bahwa pembangunan tanggul raksasa di pesisir akan menjadi sia-sia jika penurunan tanah tidak segera dihentikan. Infrastruktur seperti rumah warga dan fasilitas publik akan terus mengalami kerusakan, miring, hingga retak-retak.

Syarat mutlak untuk menyelamatkan Jakarta adalah penyediaan air bersih (air baku) 100 persen melalui perpipaan bagi seluruh warga dan industri. Jika ketergantungan pada air tanah tidak diputus, Jakarta diprediksi akan semakin sulit dihuni karena ancaman tenggelam yang kian nyata.

Masyarakat pun kini mulai menyadari dampak tersebut secara langsung. Kesaksian warga menunjukkan bahwa rumah-rumah yang dulunya tinggi kini posisinya berada jauh di bawah permukaan jalan, menjadi bukti bisu betapa cepatnya tanah Jakarta ambles selama beberapa dekade terakhir.

Insiden Kapal Imigran Ilegal Indonesia Terbalik di Perairan Malaysia: 4 Orang Tewas, 23 Ditahan

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *