Gardupedia.com — Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi sebanyak tiga kali pada Minggu (6/9/2026). Kendati skala letusan dilaporkan mulai mengecil dan meluruh, masyarakat serta nelayan di kawasan pesisir diimbau untuk tidak lengah dan tetap meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan laporan pengamatan vulkanik, rangkaian erupsi pada Minggu terjadi berturut-turut pada dini hari, pagi, dan malam hari. Erupsi pertama tercatat pada pukul 03.53 WIB. Disusul erupsi kedua pada pukul 07.10 WIB yang terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik. Adapun letusan ketiga terjadi pada pukul 20.23 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter berdurasi 44 detik.
Secara umum, visual ketiga letusan tersebut tidak teramati secara langsung dari pos pengawasan akibat puncak gunung yang tertutup kabut tebal dan uap air laut.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, mengonfirmasi bahwa intensitas gejolak vulkanik saat ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan periode erupsi beberapa hari sebelumnya.
“Letusannya sekarang sudah kecil, tidak seperti yang kemarin-kemarinnya. Cuma letup kecil sekarang, enggak sedahsyat yang semalam kemarin, sudah menurun,” kata Suwarno saat memberikan keterangan, Senin (7/9/2026).
Suwarno menjelaskan bahwa pemantauan aktivitas gunung api tersebut kini dipusatkan melalui rekaman instrumen kegempaan karena faktor cuaca dan letak geografis yang sering menghalangi pandangan visual tim pemantau.
“Kondisi Gunung Anak Krakatau tidak selalu dapat terlihat dari pos pemantauan karena sering tertutup kabut tebal dan uap air laut. Oleh sebab itu, rekaman kegempaan menjadi acuan utama kami dalam menganalisis pergerakannya,” tambah Suwarno.
Menanggapi dinamika vulkanik tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih dipertahankan pada Level III (Siaga).
Dalam keterangan resminya, pihak PVMBG meminta warga, nelayan, maupun wisatawan untuk disiplin mematuhi batas wilayah aman yang telah ditetapkan demi mengantisipasi bahaya lontaran material pijar maupun abu vulkanik.
“Kami meminta masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun nelayan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius bahaya yang telah ditetapkan dari kawah aktif,” tegas perwakilan PVMBG dalam imbauan resminya.
Pihak PVMBG juga mengingatkan agar masyarakat di sekitar pantai tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu hoaks terkait erupsi dan gelombang pasang, serta selalu memantau informasi resmi dari instrumen pemerintah.


Comment