Program Makan Bergizi Gratis Berjalan Lancar di Jatinegara 01
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatinegara 01 telah beroperasi selama enam bulan sejak Maret 2025. Selama periode tersebut, layanan ini telah memberikan manfaat kepada ribuan warga, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan siswa sekolah.
Kepala SPPG Jatinegara 01, Tommy Afoan, menjelaskan bahwa jumlah penerima manfaat saat ini mencapai 3.960 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 15 sekolah yang masuk dalam cakupan distribusi makanan bergizi, mulai dari PAUD hingga SMA. Meskipun pada awal pelaksanaan sempat menghadapi kendala bahan baku, kini proses operasional berjalan dengan lancar tanpa hambatan signifikan.
“Setelah itu sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang Alhamdulillah sudah hampir 6 bulan ini semuanya sudah lancar-lancar aja,” ujarnya.
Kerja Keras Relawan dan Proses Pengolahan
Sebanyak 50 relawan bekerja sama setiap hari untuk memastikan makanan bergizi sampai ke tangan para penerima manfaat. Proses pengolahan dimulai dari sore hari hingga dini hari. Bahan baku biasanya tiba pukul 16.00, kemudian tim pengolahan mulai bekerja setelah shalat Maghrib. Chef datang sekitar pukul 02.00 dini hari untuk memasak.
Keamanan Pangan Prioritas Utama
Keamanan pangan menjadi fokus utama SPPG Jatinegara 01 dalam menjalankan program MBG. Semua proses, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi, dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Tommy menjelaskan bahwa semua bahan baku diperiksa secara ketat sebelum digunakan.
“Jika bahan baku tidak layak, kami kembalikan ke supplier. Setelah itu, bahan yang lolos akan diperiksa suhunya, lalu masuk ke bagian pengolahan,” jelasnya.
Tes Organoleptik Sebelum Pendistribusian
Setiap makanan MBG wajib melewati tes organoleptik sebelum didistribusikan ke sekolah. Tes ini meliputi pengecekan rasa, tekstur, dan aroma. Tommy menegaskan bahwa setiap makanan dicek secara bertahap di dapur sebelum dikirim ke penerima manfaat.
“Kami mencoba rasa, tekstur, dan bau makanan sebelum mendistribusikannya. Ini penting agar kualitas tetap terjaga,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa para guru dan rekan kerja bukanlah “kelinci percobaan”. Sebelum makanan diserahkan kepada siswa, relawan dan pengurus dapur terlebih dahulu mencicipinya untuk memastikan keamanan dan kualitas.
“Program ini bertujuan untuk membantu anak-anak kita dalam hal gizi. Kami tidak ingin siapa pun terkena dampak negatif dari program ini,” tegas Tommy.
Kolaborasi dengan Platform Digital
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan. Kementerian Komunikasi dan Digital siap menjadi penghubung antara platform digital dan ekosistem lainnya, sehingga program ini dapat mencapai daerah-daerah yang membutuhkan.
“Kami berkomitmen untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, agar program ini bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Meutya.


Comment