Berita Ekonomi

Kebocoran Gula Rafinasi ke Pasar: BUMN Merugi, Siapa yang Tanggung Jawab?

Sebanyak 5.000 ton gula petani dari total 12.000 ton gula yang saat ini masih menumpuk di gudang PG Redjosarie Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan karena tak terserap pasar. Ribuan ton gula tersebut tak laku dalam 13 kali lelang yang dilakukan, diduga karena masih maraknya gula rafinasi beredar di pasaran. (KOMPAS.COM/SUKOCO)

Gardupedia.com – Sektor industri gula nasional tengah menghadapi tantangan serius akibat rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi. Fenomena ini dituding menjadi penyebab utama kerugian besar yang dialami oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) gula pada tahun buku 2025.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau yang dikenal sebagai Sugar Co, mencatatkan kerugian mencapai Rp 680 miliar sepanjang tahun lalu.

Menurut Dony, kerugian ini dipicu oleh rendahnya harga jual di pasaran akibat membanjirnya produk impor yang tidak terkontrol. Ia menegaskan bahwa jika kebocoran gula rafinasi yang seharusnya diperuntukkan bagi industri ini terus dibiarkan masuk ke pasar masyarakat, maka perkembangan industri gula dalam negeri akan terhambat secara permanen.

Pernyataan keras juga datang dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Ia menilai istilah “bocor” sudah tidak lagi relevan untuk menggambarkan situasi di lapangan.

“Yang terjadi sekarang bukan lagi rembesan kecil, melainkan banjir gula rafinasi di pasar domestik,” tegas Amran.

Menkes Tegas Coret Orang Kaya yang Masih Jadi Peserta PBI BPJS!

Amran menyoroti adanya kejanggalan atau anomali besar dalam tata niaga gula tanah air. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi gula domestik hanya mencapai 2,67 juta ton, angka yang sebenarnya masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional. Namun anehnya, meskipun stok nasional dianggap kurang, gula hasil petani lokal justru tidak laku dan sulit terserap oleh pasar.

Meskipun Indonesia masih membutuhkan impor sekitar 4,03 juta ton untuk menutupi kekurangan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa gula hasil produksi petani lokal justru sulit terserap atau tidak laku.

Ia menceritakan keluhan para petani tebu di berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan. Gula rafinasi yang beredar memiliki kualitas fisik dan warna yang hampir serupa dengan Gula Kristal Putih (GKP) milik lokal, sehingga langsung memukul daya saing produk dalam negeri.

Pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan intervensi pada tahun 2025 dengan mengucurkan subsidi sebesar Rp 1,5 triliun untuk menyerap gula rakyat melalui kerja sama BUMN dan Kementerian Pertanian. Namun, langkah ini dinilai belum efektif selama celah impor tidak dibenahi melalui regulasi yang lebih ketat.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan pernyataan berbeda. Ia membantah adanya kebocoran Gula Kristal Rafinasi (GKR) ke pasar konsumsi. Menurutnya, distribusi gula rafinasi tetap pada jalurnya sebagai bahan baku industri, sementara kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh gula kristal putih.

Cedera Kronis Paksa Viktor Axelsen Pensiun Dini di Dunia Bulutangkis

“Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri,” tuturnya.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *