Berita Regional

Kekeringan Ekstrem: Warga Sumenep Terpaksa Gadaikan Perhiasan demi Kebutuhan Air Bersih

Seorang ibu bercengkrama dengan anak-anaknya di desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.(KOMPAS.COM/ Nur Khalis)

Gardupedia.com – Krisis air bersih yang melanda wilayah Sumenep, Madura, telah mencapai titik yang memprihatinkan. Demi memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari selama musim kemarau, sejumlah warga dilaporkan terpaksa menggadaikan barang berharga mereka, terutama emas, untuk mendapatkan dana segar guna membeli air.

Haliyah (42), salah satu warga setempat, mengungkapkan realita ini dengan istilah yang sudah lazim di telinga masyarakat sana, yakni “menyekolahkan emas”. Istilah ini merujuk pada aktivitas menggadaikan perhiasan ke lembaga gadai untuk mendapatkan uang tunai.

“Kalau sudah masuk kemarau, siap-siap emasnya sekolah,” ujar Haliyah saat ditemui pada Senin (2/3/2026).

Meskipun diucapkan sambil tersenyum, pernyataan tersebut menyiratkan beban ekonomi yang nyata. Bagi Haliyah dan warga di lima dusun lainnya di Desa Prancak, kemarau adalah momen di mana mereka harus memutar otak dan menghitung dengan cermat pengeluaran hanya untuk membeli air bersih.

Kondisi ini mencerminkan betapa beratnya beban ekonomi yang harus dipikul masyarakat akibat perubahan iklim dan terbatasnya akses air di wilayah tersebut. Menggadaikan emas menjadi solusi terakhir bagi warga saat sumber air alami mengering dan bantuan dari pemerintah belum mencukupi atau terlambat sampai.

MPR Putuskan Gelar Ulang Final LCC di Kalbar dengan Juri Independen Baru

Di tengah kelangkaan, harga air bersih melonjak tajam. Warga harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli air dari tangki swasta guna keperluan minum, memasak, dan sanitasi. Fenomena ini rutin terjadi, namun intensitas kekeringan di tahun 2026 ini memaksa warga mengambil langkah finansial yang lebih drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bagi masyarakat pedesaan di Sumenep, emas bukan sekadar perhiasan, melainkan tabungan darurat. Namun, karena air adalah kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda, mereka rela melepas aset tersebut sementara waktu di pegadaian. Harapannya, ketika musim penghujan tiba dan kondisi ekonomi membaik, mereka bisa menebus kembali barang berharga tersebut.

Fenomena ini menunjukkan perlunya solusi jangka panjang dari pemerintah daerah, seperti pembangunan sumur bor atau perluasan jaringan pipa air, agar warga tidak terus-menerus terjebak dalam siklus “gadai barang demi air.”

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Wamenkum Tegaskan di MK bahwa Kedudukan Polri Berbeda dengan Kementerian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *