Berita

Keluarga Korban Al Khoziny Kembali Terima Santunan, Berharap Dapat Rida Kiai

Keluarga Korban Pilih Mengembalikan Santunan demi Rida Kiai

Dalam peristiwa tragis ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, banyak keluarga korban mengalami duka yang mendalam. Namun, di tengah kesedihan tersebut, muncul tindakan yang sangat mengharukan dari salah satu keluarga korban. Mereka memilih untuk mengembalikan uang santunan yang diberikan oleh pihak pesantren, bukan karena tidak butuh, melainkan untuk mendapatkan ridha dari para kiai dan guru.

Salah satu keluarga yang menolak penerimaan santunan adalah keluarga Sholeh, seorang santri asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung. Sang kakak, Abdul Fattah, memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut dengan alasan yang sangat tulus. Ia menjelaskan bahwa keputusan ini dilakukan bukan karena apa-apa, tetapi ingin mendapatkan ridha dari para kiai dan guru di pesantren. Bagi keluarga, yang lebih penting adalah doa dan keberkahan dari para guru yang telah membimbing adiknya dalam menuntut ilmu.

“Kami tidak mau menerima santunan itu bukan karena apa-apa, hanya ingin mendapatkan ridanya kiai dan guru di pesantren,” ujar Abdul Fattah dengan suara lirih. Ia menambahkan bahwa bagi keluarganya, yang terpenting adalah doa dan rida dari para guru, bukan sekadar uang.

Doa dan Permohonan Maaf dari Pihak Pesantren

Kiai Mamad, anggota Dewan Pengasuh Pesantren Al Khoziny, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban. Ia menyebut para santri yang gugur sebagai syahid, karena meninggal saat sedang beribadah dan menuntut ilmu agama. Menurutnya, kematian Sholeh terjadi dalam kondisi husnul khotimah, yaitu dalam posisi salat dan sebagai penuntut ilmu.

Pihak pesantren juga menegaskan bahwa uang santunan bukanlah bentuk kompensasi, melainkan wujud empati dan tanggung jawab moral atas tragedi yang tidak diinginkan. Meski begitu, keputusan keluarga untuk mengembalikan uang tersebut menjadi bukti ketulusan dan keikhlasan dalam menerima takdir.

Bela Feri Amsari dan Ubedilah Badrun, Menteri Pigai Sebut Kritik Adalah Hak Konstitusi

Tragedi yang Menyisakan Luka dan Keteguhan Iman

Peristiwa ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny terjadi pada Senin (29 September 2025), saat para santri sedang melaksanakan salat asar. Saat itu, suasana khusyuk berubah menjadi kepanikan ketika atap bangunan runtuh dan menimpa ratusan santri di dalamnya.

Hingga hari kedelapan pascakejadian, BNPB mencatat ada 156 korban. Dari jumlah tersebut, 104 orang selamat, sementara 52 lainnya meninggal dunia, termasuk lima bagian tubuh yang ditemukan di lokasi. Proses evakuasi masih terus dilakukan untuk mencari korban yang diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Tragedi ini menggugah banyak pihak untuk memberikan bantuan, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, maupun dukungan psikologis bagi keluarga korban. Namun, keputusan keluarga Abdul Fattah untuk menolak santunan demi mencari rida kiai menjadi contoh ketulusan dan keikhlasan dalam menerima takdir.

Refleksi di Tengah Duka

Peristiwa ini bukan hanya tragedi fisik, tetapi juga ujian spiritual bagi para santri dan keluarga korban. Banyak masyarakat menilai sikap keluarga tersebut menunjukkan keyakinan bahwa keberkahan doa seorang guru jauh lebih berharga dari materi.

Saat ini, reruntuhan pesantren mulai dibersihkan. Namun, luka batin dan kenangan akan para santri yang gugur dalam ibadah masih menyelimuti Sidoarjo. Para keluarga berharap agar tragedi ini menjadi pelajaran besar bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan keselamatan dan kualitas bangunan lembaga pendidikan agama di masa mendatang.

Strategi Pelatih Panjat Tebing Kejar Performa Puncak di Asian Games 2026

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *