Gardupedia.com – Lembaga otoritas keagamaan tertinggi di Iran, Majelis Ahli, dilaporkan telah mencapai mufakat dalam menentukan sosok pengganti mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Meski keputusan sudah bulat, identitas pemimpin baru tersebut hingga kini masih dirahasiakan dan belum diumumkan secara resmi kepada publik.
Kabar mengenai selesainya proses pemilihan ini dikonfirmasi oleh sejumlah anggota Majelis Ahli. Mohsen Heydari, perwakilan dari Provinsi Khuzestan, menyatakan bahwa mayoritas anggota dewan telah menyepakati satu kandidat yang dianggap paling mumpuni untuk menduduki posisi puncak otoritas politik dan religi di Iran tersebut.
Menariknya, Heydari memberikan isyarat mengenai identitas sang calon dengan menyinggung pihak luar. Ia menyebut bahwa sosok yang terpilih ini adalah nama yang pernah disebut-sebut oleh Amerika Serikat (yang ia juluki sebagai “Setan Besar”).
Banyak pihak menduga bahwa sosok tersebut merujuk pada putra mendiang pemimpin sebelumnya, yaitu Mojtaba Khamenei. Sejak lama, Mojtaba memang diprediksi akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan ayahnya.
Namun, proses suksesi ini diwarnai ketegangan diplomatik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk ikut campur. Trump secara tegas menolak jika Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin Iran berikutnya, dan menyebutnya sebagai figur yang tidak memiliki pengaruh besar. Trump bahkan mengeklaim bahwa Washington seharusnya memiliki peran dalam menentukan arah masa depan kepemimpinan di Teheran demi mencapai harmoni di kawasan.
Pernyataan Trump tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pejabat di Teheran. Mereka menegaskan bahwa Amerika Serikat sama sekali tidak memiliki hak untuk mengintervensi urusan internal dan kedaulatan Iran, terutama dalam hal pemilihan pemimpin tertinggi.
Pemilihan ini berlangsung di tengah situasi keamanan yang sangat tidak stabil. Ayatollah Ali Khamenei sendiri dikabarkan wafat pada 28 Februari 2026 akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke kantornya di Teheran.
Bahkan saat Majelis Ahli melakukan perundingan, ancaman keamanan terus membayangi. Melalui media sosial, militer Israel secara terang-terangan mengancam akan menargetkan para anggota Majelis Ahli yang terlibat dalam penunjukan pemimpin baru ini.
Meski ditekan secara militer dan politik, Mohammad Mehdi Mirbagheri, anggota Majelis Ahli lainnya, memastikan bahwa proses transisi tetap berjalan sesuai rencana. Ia mengakui bahwa kondisi saat ini memang sangat sulit dan penuh rintangan, namun Majelis tetap melangkah dengan hati-hati untuk memastikan stabilitas negara tetap terjaga.
Saat ini, dunia sedang menantikan waktu yang tepat bagi sekretariat Majelis Ahli untuk secara resmi merilis nama pemimpin baru yang akan memegang kekuasaan tertinggi di Republik Islam tersebut.


Comment