Berita Regional

Menjaga Tradisi Leluhur: Kisah Mualaf di Surabaya yang Tetap Jalankan Ritual Imlek

Potret suami ibu Sumiati yang sedang menancapkan dupa untuk melakukan sembahyang di dalam rumah pada Senin (16/2/2026).(KOMPAS.com/Adinda Trisaeni Nur Sabrina)

Gardupedia.com – Perayaan Tahun Baru Imlek di Kampung Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, tidak hanya diramaikan oleh pertunjukan barongsai dan hiasan serba merah. Di balik kemeriahannya, terdapat nilai toleransi dan penghormatan mendalam terhadap leluhur yang tetap dipegang teguh oleh warga setempat, termasuk mereka yang telah berpindah keyakinan.

Salah satunya adalah Sumiati (54), warga asli Tambak Bayan yang telah memeluk agama Islam sejak tahun 1990-an. Meski kini seorang Muslimah, perempuan yang memiliki nama Tionghoa Lee Syume ini tetap rutin melaksanakan prosesi sembahyang Imlek setiap tahunnya. Baginya, ritual ini bukanlah sekadar ibadah agama lama, melainkan cara untuk menghormati orang tua dan para pendahulu yang telah tiada.

“Jika tidak ada leluhur, maka tidak akan ada kita sekarang. Ini adalah cara saya menjaga adat dan meneruskan tradisi keluarga,” ujar Sumiati saat ditemui pada Senin (16/2/2026).

Persiapan sembahyang biasanya dimulai Sumiati satu minggu sebelum hari raya. Ia berbelanja kebutuhan ritual dan bahan makanan di Pasar Kapasan. Hidangan yang disajikan pun sangat personal, yakni makanan-makanan yang dulu digemari oleh anggota keluarga yang sudah meninggal, seperti ayam, bandeng, mi, dan tahu. Tahun ini, ia menyiapkan doa khusus untuk lima orang terkasih, termasuk kedua orang tua dan kakek buyutnya.

Menurut keterangan Suseno Karja, Wakil Ketua RT setempat, prosesi sembahyang di kawasan tersebut umumnya terbagi menjadi dua sesi:

MPR Putuskan Gelar Ulang Final LCC di Kalbar dengan Juri Independen Baru

Sembahyang ditujukan kepada Dewa Bumi dan Dewa Langit dengan suguhan berupa kue-kue manis dan minuman.

Sembahyang khusus untuk para leluhur. Di atas meja besar, keluarga menyajikan berbagai lauk pauk, menyalakan lilin, serta dupa (hio). Ritual ini diakhiri dengan pembakaran kertas perak atau “uang-uangan” sebagai simbol pengiriman rezeki kepada arwah keluarga, yang kemudian ditutup dengan sesi makan besar bersama anggota keluarga yang masih ada.

    Sumiati menegaskan bahwa aktivitasnya menjalankan tradisi Tionghoa tidak pernah memicu konflik dengan keyakinan barunya maupun dengan warga sekitar. Lingkungan Tambak Bayan dikenal sangat rukun, di mana perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk melestarikan warisan budaya.

    Bagi warga mualaf seperti Sumiati, Imlek adalah momentum refleksi untuk mengingat asal-usul. Tradisi ini pun terus berlanjut hingga perayaan Cap Go Meh, menjadi jembatan yang mempererat silaturahmi antar-keluarga di tengah keberagaman keyakinan.

    Wamenkum Tegaskan di MK bahwa Kedudukan Polri Berbeda dengan Kementerian

    Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *