Berita Ekonomi

Minyak Dunia dalam Bahaya: Produksi Timur Tengah Anjlok Parah Hingga 61%

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. (SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ)

Gardupedia.com – Laporan terbaru dari organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) menunjukkan penurunan drastis pada produksi minyak mentah di sejumlah negara utama Timur Tengah sepanjang Maret 2026. Konflik bersenjata yang melibatkan Iran menjadi penyebab utama macetnya produksi di negara-negara seperti Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Berdasarkan data awal pekan ini, Irak menjadi negara yang terdampak paling parah. Produksi minyak mereka anjlok hingga 61 persen, dari yang sebelumnya mencapai 4,2 juta barel per hari di bulan Februari, kini hanya tersisa 1,6 juta barel per hari pada Maret.

Kondisi serupa juga dialami oleh Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) yang masing-masing mencatatkan penurunan produksi sebesar 53 persen dan 44 persen secara bulanan. Sementara itu, Arab Saudi sebagai produsen terbesar di dalam aliansi OPEC, mengalami penyusutan produksi sebesar 23 persen, yakni dari 10,1 juta barel menjadi 7,8 juta barel per hari.

Secara kumulatif, total produksi minyak anggota OPEC turun signifikan sebesar 27 persen, dari angka 28,7 juta barel menjadi 20,8 juta barel per hari.

Penurunan tajam ini dipicu oleh gangguan pada jalur distribusi. Arab Saudi, yang sangat mengandalkan pipa Timur-Barat untuk mengekspor minyak dari Teluk Persia menuju Laut Merah, terpaksa gigit jari setelah jalur berkapasitas 7 juta barel per hari tersebut diserang oleh Iran. Serangan ini melumpuhkan kapasitas distribusi hingga 700.000 barel per hari.

Menkes Tegas Coret Orang Kaya yang Masih Jadi Peserta PBI BPJS!

Di sisi lain, negara-negara Teluk Arab terpaksa memangkas produksi karena tidak bisa mengirimkan komoditas mereka melalui Selat Hormuz. Jalur laut vital yang menghubungkan produsen energi dengan pasar global tersebut sepi dari lalu lintas kapal tanker akibat ancaman serangan Iran.

CEO Kuwait Petroleum Corp, Sheikh Nawaf al-Sabah, mengungkapkan bahwa untuk mengembalikan kapasitas produksi ke level normal bukanlah perkara mudah. Meski mereka memiliki cadangan yang bisa segera diproduksi dalam hitungan hari, butuh waktu beberapa minggu untuk meningkatkan volume dan setidaknya tiga hingga empat bulan untuk mencapai kapasitas penuh kembali.

Berbeda dengan tetangganya, produksi Iran hanya turun tipis sekitar 5 persen menjadi 3,06 juta barel per hari karena mereka tetap menggunakan Selat Hormuz selama masa perang. Namun, Iran kini terancam blokade total oleh Amerika Serikat setelah negosiasi damai menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump telah menginstruksikan Angkatan Laut untuk menutup akses pelabuhan Iran.

Ketegangan geopolitik ini langsung menyulut harga minyak dunia. Harga minyak mentah AS (WTI) dan patokan global Brent kembali menembus angka 100 dollar AS per barel untuk pengiriman Juni, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan energi global.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Cedera Kronis Paksa Viktor Axelsen Pensiun Dini di Dunia Bulutangkis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *