Berita Regional

Nelayan di Batam Terjepit Kerusakan Lingkungan yang Kian Meluas

Pantai Kampung Melayu Batam, Kepri, yang tercemar limbah dan berubah menjadi hitam, Rabu (3/5/2023). (ANTARA/Jessica)

Gardupedia.com – Kondisi pesisir di Kota Batam, Kepulauan Riau, kini semakin memprihatinkan. Para nelayan tradisional menjadi pihak yang paling terdampak oleh kerusakan ekosistem yang masif. Aktivitas pembangunan seperti pemotongan bukit (cut and fill), penimbunan area pantai, hingga penutupan aliran sungai telah merusak lingkungan sekaligus memutus sumber mata pencarian warga setempat.

Kegelisahan ini dirasakan mendalam oleh warga di Kampung Tua Tanjung Piayu dan Kampung Tua Setengar. Mereka yang sudah menetap di sana sejak tahun 1980-an kini harus menyaksikan laut mereka rusak akibat proyek reklamasi dan pematangan lahan yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari bibir pantai.

Salah seorang nelayan, Rajudin, mengungkapkan bahwa dua sungai utama yang menjadi tumpuan hidup mereka, yakni Sungai Sabi dan Sungai Perbat, kini tertimbun material tanah. Padahal, wilayah tersebut merupakan habitat alami udang dan kepiting yang biasa mereka tangkap. Akibatnya, penghasilan nelayan merosot drastis karena mereka kehilangan area tangkap yang dekat dan aman.

Kerusakan lingkungan ini diduga juga merambah kawasan Hutan Lindung Sei Beduk II seluas 2 hingga 3 hektare. Salah satu hal yang mencurigakan adalah ketiadaan papan nama proyek di lokasi pengerjaan. Menurut aturan, setiap proyek yang memiliki izin resmi wajib memasang papan informasi untuk transparansi publik.

Organisasi lingkungan, Akar Bhumi Indonesia, sebelumnya telah melaporkan aktivitas ini hingga sempat memicu tindakan penyegelan oleh BP Batam. Namun, meski plang penyegelan bertuliskan “Dalam Pengawasan BP Batam” masih terpasang, aktivitas pengerjaan di lapangan dilaporkan terus berjalan seolah mengabaikan sanksi hukum yang ada.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Aset Negara Senilai Rp10,2 Triliun dari Penertiban Hutan

Selain hilangnya area mangrove, penimbunan ini menyebabkan sedimentasi atau pendangkalan laut. Air laut berubah menjadi keruh dan berlumpur, terutama saat hujan turun. Kondisi ini membuat ikan menjauh dari pesisir, sementara nelayan kecil dengan perahu terbatas tidak mampu melaut hingga ke tengah samudera karena kendala biaya operasional dan keamanan.

Kini, para nelayan hanya bisa berharap adanya ketegasan dari pemerintah dan pihak berwenang untuk menghentikan aktivitas perusakan lingkungan tersebut serta melakukan rehabilitasi terhadap ekosistem yang telah hancur demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Gardupedia.com berkomitmen menyajikan berita yang akurat, informatif dan kredibel. Ikuti dan pantau terus perkembangan berita selanjutnya !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *