Berita Business

Profil Henry Panjaitan, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Baru

Penunjukan Henry Panjaitan sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. telah menetapkan Henry Panjaitan sebagai Wakil Direktur Utama. Pengangkatan ini dilakukan setelah Riduan, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama, diangkat ke posisi yang lebih tinggi. Penyesuaian struktur kepemimpinan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat organisasi dan meningkatkan sinergi antarfungsi.

Menurut Corporate Secretary Bank Mandiri M. Ashidiq Iswara, langkah ini bertujuan untuk mempercepat pengambilan keputusan strategis guna mendukung transformasi bisnis dan berkontribusi pada penguatan ekonomi berbasis kerakyatan. Perubahan ini juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih efisien dan kolaboratif.

Profil Henry Panjaitan

Henry Panjaitan lahir di Jakarta pada 7 Juli 1969. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) Manajemen dari Universitas Padjadjaran (Unpad) pada tahun 1991. Setelah itu, ia melanjutkan studi Master (S2) di University of New South Wales (USW), Inggris, dan lulus pada tahun 2002. Satu tahun kemudian, ia menyelesaikan S2 dalam bidang Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia (UI).

Henry memiliki pengalaman kerja yang luas di bidang perbankan. Sejak awal kariernya, ia pernah menjadi Pengelola Advisory & Sekuritas Divisi Investasi & Jasa Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (2003-2004). Selama masa tersebut, ia juga menjabat sebagai Pengelola Analisis Kredit Divisi Korporasi Dua Bank (2004), Pengelola Pemasaran Bisnis Divisi Korporasi Dua Bank (2004-2005), serta Relationship Manager Divisi Korporasi (2006-2007).

Pada periode 2007-2008, Henry menjabat sebagai Manager Personal Asisten Direksi Divisi KMP, kemudian menjadi Pemimpin Kelompok Trade Finance Divisi International pada 2008-2009. Pada 2009, ia dipindahkan ke Kantor BNI Hong Kong sebagai Deputy General Manager hingga 2010, lalu menjadi General Manager pada 2010-2015.

Menkes Tegas Coret Orang Kaya yang Masih Jadi Peserta PBI BPJS!

Setelah kembali ke Indonesia, Henry menjabat sebagai Head of Business & Banking BNI Wilayah Jakarta Senayan (2015-2016). Beberapa jabatan lain yang pernah ia emban meliputi Pemimpin Divisi BIN (2016-2017), Pemimpin Wilayah Jakarta BSD (2019-2020), Pemimpin Wilayah Jakarta Senayan (2020), serta Direktur Treasury dan International (2020-2022).

Pada 27 Oktober 2022, Henry diangkat sebagai Direktur Bisnis Penjaminan Jamkrindo. Pengangkatan ini didasarkan pada Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor SK-244/MBU/10/2022-014/Kep-Sir-PS/BPUI/X/2022 tentang Pemberhentian, Pengalihan Tugas, dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Jamkrindo.

Harta Kekayaan Henry Panjaitan

Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara elektronik (e-LHKPN) yang dilihat dari situs Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Henry tercatat memiliki harta senilai Rp 53.776.010.732. Angka ini berdasarkan periode pelaporan 2024 sebagai Direktur Bisnis Penjaminan Jamkrindo, yang disampaikan pada Rabu, 19 Maret 2025.

Berikut rincian harta kekayaan Henry:

  • Tanah dan bangunan: Rp 29.829.375.000.
  • Alat transportasi dan mesin: Rp 4.875.000.090.
  • Harta bergerak lainnya: Rp 355.000.000.
  • Surat berharga: Rp 10.104.364.678.
  • Kas dan setara kas: Rp 10.612.270.964.
  • Harta lainnya: –
  • Utang: Rp 2.000.000.000.

Henry memiliki empat bidang tanah dan/atau bangunan yang diklaim dari hasil sendiri. Aset properti ini tersebar di Jakarta Selatan, Tabanan, dan Gianyar dengan luas antara 270 hingga 2.050 meter persegi.

Cedera Kronis Paksa Viktor Axelsen Pensiun Dini di Dunia Bulutangkis

Selain itu, Henry memiliki delapan unit kendaraan yang seluruhnya diklaim dari hasil sendiri. Kendaraannya meliputi mobil Jeep Wrangler (2013) senilai Rp 700 juta, motor BMW R90T (2019) senilai Rp 625 juta, mobil Mercedes Benz E250 (2015) senilai Rp 850 juta, mobil Mercedes Benz C250 (2017) senilai Rp 650 juta, motor Harley Davidson Fatboy (2021) senilai Rp 750 juta, mobil Jeep Cherokee (1999) senilai Rp 300 juta, mobil Mercedes Benz G280 (1987) senilai Rp 500 juta, dan mobil Mercedes Benz G280 (1886) senilai Rp 500 juta.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *