Gardupedia.com – Masyarakat Bengkulu dikenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, kerukunan dan kebersamaan. Filosofi dan semboyan hidup mereka sederhana, namun sarat makna. Bahkan, prinsip hidup dengan penuh keluhuran itu di diabadikan dalam lirik lagu daerah Bengkulu Selatan, berjudul “Sekundang Setungguan”.
Sebuah realita bahwa harmoni sosial melekat menjadi kepribadian masyarakat Bengkulu. Mengedepankan persahabatan yang baik hingga menjadi ikatan kekeluargaan yang erat. Tiada beban berat sepanjang dikerjakan bersama-sama, dan akan terasa ringan. Solidaritas menjadi kunci stabilitas sosial dengan saling mendukung dan membantu menyelesaikan.
Fenomena sosial ini yang ingin dilihat dan dipahami oleh KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dari keberadaan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di bumi Raflesia. Karena, Nahdlatul Ulama telah menyatu ditengah masyarakat Bengkulu selama 63 tahun. Dan, apa yang bisa dikontribusi oleh NU dalam membangun masa depan Bengkulu ?
Sabtu, 6 Juni 2026, Gus Salam dibersamai masyayikh PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri, berkunjung silaturrohim dengan PWNU dan PCNU se-Bengkulu. Diawali silaturrohim Katib PWNU Bengkulu, KH. Aly Shodiq, kemudian bertemu Rais dan Ketua PWNU Bengkulu, KH. Hasbullah Achmad dan Prof. Dr. KH. Khairudin Wahid, M.Ag.
Ditemui di lobby Hotel Mercure, Ratu Samban, Kota Bengkulu, sebelum forum silaturrohim dimulai, Gus Salam mengungkapkan rasa senang bisa berkunjung ke Bengkulu. Ia ingin merasakan kehangatan bertemu dengan saudara-saudara pengurus NU se-provinsi Bengkulu.
“alhamdulillah, setelah dari Makasar kemarin, sholat jum’at disana dan menikmati Coto Makasar, saat ini saya ingin merasakan nikmatnya lauk pendap dan kue lepek binti, khas Bengkulu,” kata Gus Salam sambil senyum sumringah.
“Dan, tadi sudah dijamu makan KH Ali Shodiq Ahmad, Katib PWNU, di kediaman beliau. Luar biasa, kehormatan bagi kami bisa makan bersama keluarga beliau di pesantren Hidayatul Qomariyah,” tambahnya.
Forum silaturrohim dimulai pukul 19:30 WIB, dihadiri ketua PWNU dan ketua beserta rais PCNU se-provinsi Bengkulu.
Dalam paparan perkenalan, usai forum, Gus Salam menyampaikan rasa salut dan apresiasinya terhadap semangat pengurus NU se-Bengkulu. Antusias kehadiran dari pengurus terjauh seperti PCNU Mukomuko menunjukkan.perjuangan mengurus jam’iyyah NU disertai pengorbanan lahir-batin.
“kekompakan dan soliditas pengurus NU dari PWNU dan PCNU se-Bengkulu, bisa menjadi inspirasi sekaligus teladan bagi PBNU dan PWNU lain dalam mengelola organisasi,” ujar Gus Salam.
“semangat dan komitmen berkhidmah NU untuk memajukan pelayanan kepada nahdliyyin dan masyarakat, sangat tinggi. Disamping itu, Bengkulu secara geografis, berada di sepanjang bukit Barisan dan Samudera Hindia menjadi potensi yang sangat besar untuk dikelola,” katanya menggambarkan sosio ekonomi NU di Bengkulu.
“jadi, kemajuan NU di Bengkulu membutuhkan keseriusan PBNU untuk memfasilitasi, mendampingi dan menguatkan seluruh inisiatif pengkhidmatan pengurus jam’iyyah kepada masyarakat berbasis kearifan dan potensi lokal,” tambahnya.
Selama forum, beberapa PCNU menanggapi dan menyampaikan catatan terhadap dinamika organisasi, terutama PBNU selama ini. Mereka berharap, PBNU ke depan dikelola orang-orang yang memiliki jiwa-ruh pengkhidmatan; yang berkomitmen membesarkan jam’iyyah dan warga jama’ah. Jangan dipimpin oleh orang ‘sambilan’ (tidak total berkhidmah).
Disamping do’a dan memberikan apresiasi atas silaturrohim Gus Salam dengan pengurus NU di Bengkulu, beberapa diantaranya memberikan pendapat kritis. Dr KH Mabrursyah dari Rejang Lebong, menyayangkan banyaknya pengurus karteker oleh PBNU. Kondisi seperti itu, menurutnya, tidak membawa keteduhan berorganisasi, dan membatasi nalar kritis berjam’iyyah.
Isu politik dan tambang oleh PBNU yang tidak membawa kemashlahatan umat, juga muncul. Dr. KH. Syafrullah dari PCNU Kepahiyang menyoroti upaya pelemahan NU, terus terjadi. Untuk itu, ia berpandangan bahwa NU ke depan butuh pemimpin yang benar-benar tulus berkhidmah, bukan berorientasi dan terjebak pragmatisme politik.
Merespon tanggapan dari beberapa PCNU, Gus Salam memahami keresahan dan harapan mereka. Dan itu tidak hanya dirasakan dan menjadi harapan nahdliyyin di Bengkulu, tapi hampir semua nahdliyyin di berbagai daerah.
“karenanya, kekompakan dan soliditas NU Bengkulu, bisa menjadi pelopor. Dari Bengkulu untuk PBNU baru yang solid, berintegritas dan tulus melayani demi kemashlahatan umat, masyarakat dan bernegara-bangsa,” pungkas Gus Salam.


Comment